Oleh: Ariya Ilham | 29 Maret 2009

Saatnya Mencari Pemimpin Politik

0401081531442Masa kampanye Pemilu 2009 (kecuali rapat umum) dimulai tanggal 12 Juli 2008. Sejak itu partai politik yang telah ditetapkan sebagai peserta Pemilu 2009 secara resmi bisa menjual barang dagangannya kepada rakyat.
Kampanye politik pada hakikatnya merupakan promosi calon pemimpin politik. Itu merupakan bagian dari perekrutan kepemimpinan politik. Rakyat diminta menilai partai politik dan calon pemimpin politik yang ditawarkan. Karena itu rakyat seyogyanya juga memiliki dasar pertimbangan yang jelas terhadap keputusannya kelak.
Lantas masalahnya, kepemimpinan politik macam apakah yang dicari dan dibutuhkan oleh rakyat Indonesia dewasa ini?
Kehilangan Jiwa
Bung Karno pernah membayangkan Indonesia sebagai bangsa negara yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Indonesia memang memiliki potensi ke arah sana, baik objektif maupun subjektif. Potensi objektif itu tampak pada kekayaan sumber daya alam yang membuat pihak asing senantiasa berupaya mencengkramnya.
Sementara itu, potensi subjektif bisa dirunut dari kenyataan bahwa Indonesia terbentuk bukan sebagai hadiah. Ada jejak yang jelas tentang perlawanan pejuang terhadap para rezim kolonial, yang selanjutnya membentuk “kesadaran kolektif” untuk berdaulat secara politik, mandiri secara ekonnomi, dan berkepribadian secara budaya. Setidaknya Indonesia pernah disegani dan menjadi pemimpin Asia – Afrika justru dalam usianya yang relatif masih muda.
Namun potensi tersebut ternyata gagal dikelola secara baik. Selama kepemimpinan Orde Baru, kita terlena oleh doktrin “ekonomi sebagai panglima” yang dianggap sebagai koreksi terhadap doktrin “politik sebagai panglima”. Zaman reformasi pun tidak mengubah paradigma ini. Bedanya, Orde Baru bekerja dalam kerangka dunia melawan komunisme, sedangkan era reformasi bekerja dalam kerangka dunia pasca Perang Dingin. Keduanya sama – sama mengabdi pada kapitalisme global.
Selama itulah kita telah mengabaikan pembangunan jiwa dan hanya mengedepankan pembangunan badan. Padahal dalam jiwa terdapat spirit, karakter, etos, dan nilai – nilai. Dalam jiwa itu pula kita merasakan dan mengerti hidup berkebangsaan, ada “kesadaran kolektif”. Sementara itu badan adalah instrumen bagi kelangsungan jiwa.
Sejarah Eropa menunjukkan bahwa bangsa – bangsa barat mencapai kemakmuran dengan cara menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi setelah menemukan jiwa pencerahan.
Alhasil kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi terjadi di mana – mana. Korupsi dan bentuk – bentuk lain penyelewengan kekuasaan merajalela serta menjadi problem akut yang menyengsarakan rakyat negeri ini. Solidaritas sosial dan semangat kegotong royongan melemah.
Kekerasan serta konflik sosial sering muncul di tengah lemahnya penegakan hukum. Bencana alam akibat ulah dan kelalaian manusia pun datang silih berganti. Reformasi juga tak menghasilkan apa – apa, kecuali hiruk – pikuk ritus politik pergantian pemerintahan.
Indonesia lalu menjadi bangsa yang kehilangan jiwa. Indonesia kehilangan kepercayaan (trust) dunia. Harkat dan martabat Indonesia sebagai bangsa dipertanyakan. Rakyat lalu juga kehilangan semangat dan harapan hidup. Rakyat semakin menderita. Optimisme rakyat hancur. Indonesia di ambang kebangkrutan.
Kepemimpinan Politik
Kondisi bangsa yang kehilangan jiwa, yang di ambang kebangkrutan, membutuhkan kepemimpinan yang spesifik. Kepemimpinan politik sangat penting karena bisa menjadi magnet untuk menumbuhkan jiwa.
Karena itu, yang dicari dan dibutuhkan dewasa ini adalah kepemimpinan politik yang mampu membangkitkan optimisme rakyat. Bukan pejabat politik yang hanya bisa mempertontonkan perilaku aji mumpung yang justru melukai perasaan rakyat.
Indonesia mencari pemimpin politik yang mampu dan sanggup mengajak para buruh, petani, nelayan, guru, para pegawai pemerintah, dan rakyat yanglain untuk menatap ke depan dengan wajah berseri – seri. Optimisme rakyat itu bisa dibangkitkan kalau sang pemimpin politik tersebut bersedia “bunuh diri kelas”. Stop korupsi dan segala bentuk komersialisasi kekuasaan yang selama ini justru menjadi orientasi pemimpin politik. Kekusaan hanya diabdikan untuk membela kepentingan rakyat. Dari sinilah kepercayaan, semangat, dan kerja keras rakyat bisa mula ditumbuhkan.
Selanjutnya, kepemimpinan politik itu haruslah bisa meyakinkan rakyat untuk memulai cara hidup baru berbangsa – negara. Basis kesejahteraan rakyat harus mulai digeser dari modal fisik ke modal kecerdasan. Sumber daya alam kini sudah tidak bisa dijadikan tumpuan utama untuk menciptakan kesejahteraan.
Kekayaan sumber daya alam tidak akan optimal memberikan kesejahteraan rakyat tanpa modal kecerdasan sebagaimana yang kita alami selama ini. Kelemahan bangsa ini dalam berhadapan dengan pemodal asing untuk eksplorasi kekayaan alam terletak pada ketiadaan modal kecerdasan.
Karena itu, bangsa ini mencari pemimpin politik yang briliant, inspriratif, dan kaya gagasan untuk menciptakan tumpuan kesejahteraan baru yang bersumber dari kecerdasan, kredibilitas, kohesivitas, serta semangat kerja masyarakat. Kesadaran tersebut harus bisa dibangun dan ditumbuhkan oleh pemimpin kepada setiap warga masyarakat, anak – anak, pemuda , serta orang tua di senua daerah, di semua sektor kehidupan.
Sejalan dengan itu, pemimpin politik yang dicari juga harus berani keluar dari ketergantungan pada kekuatan asing. Selama ini, elite – elite negeri ini selalu bangga kalau mendapat pinjaman asing. Sekarang harus sebaliknya. Pemimpin politik yang dicari haruslah yang bisa menumbuhkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan bahwa kemajuan dan keberhasilan yang sebenarya memerlukan usaha keras, perjuangan, keteguhan hati, dan bukan belas kasihan. Indonesia harus mulai dari kekuatan sendiri.
Apakah Pemilu 2009 akan menghasilkan pemimpin politik yang menjanjikan energi baru, gairah baru, harapan baru, inspirasi bagi kebangkitan bangsa Indonesia? Jika Pemilu 2009 yang menelan biaya puluhan triliun rupiah ( anggaran KPU saja lebih dari 20 triliun rupiah ) gagal melahirkan pemimpin politik yang bisa membangkitkan optimisme rakyat untuk bangkit dari keterpurukan, itu berarti bangsa ini “ Sontoloyo ”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: