Oleh: Ariya Ilham | 29 Maret 2009

Visi Pendidikan Kita

Menyakitkan memang, meksipun pernah menduduki posisi lumayan, saat ini kualitas manusia Indonesia mengalami kemerosotan menjadi yang paling rendah di Asia Tenggara. Hal ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Dalam laporan International Education Achievement (2004) tentang kemampuan membaca murid SD serta kemampuan matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam murid SLTP Indonesia menduduki urutan buncit dari 42 negara yang diteliti.
Selain kualitas, pendidikan kita juga menghadapi masalah kuantitas. Tahun lalu, dari 118.108 siswa SD yang mengikuti general test di Jakarta, sebanyak 34.313 tidak diterima di SLTP negeri. Bila ingin melanjutkan sekolah, mereka harus mendaftar ke sekolah swasta yang lebih mahal.
Padahal bisa diduga, sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga pas – pasan, yang boleh jadi mengalami kesulitan konsentrasi karena kekurangan gizi misalnya. Tanpa affirmative action dari negara untuk membantu mereka yang lemah secara ekonomi. Selain kemerosotan kualitas manusia, kita juga dihadapkan pada kesenjangan sosial yang semakin mengental.
Lebih dari dua hal tadi, keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh visi yang dianut. Meminjam istilan Ben Anderson, Indonesia adalah sebuah Imagined Community, komunitas yang “dibayangkan”. Untuk itu, dibutuhkan sebuah visi pendidikan yang membayangkan Indonesia seperti apa yang kita inginkan.
Perilaku menyimpang seperti yang banyak ditunjukkan elite yang melakukan korupsi serta tidak jarang sikap masyarakat yang terkesan permisif terhadap tindakan dan pelaku korupsi bisa dianggap sebagai salah satu indikasi kegagalan pendidikan yang seharusnya berperan menghasilkan manusia yang tidak hanya rasional, tapi juda berbudi luhur.
Saat ini semakin terasa perlunya kesepakatan yang mendasari dan menjadi tujuan pendidikan nasional.
Tentu saja yang dimaksud bukanlah penyeragaman, tetapi kesepakatan terkait Leitgedaken (alur pemikiran) yang memberikan ruang bagi mekarnya kreativitas dan keberagaman, toleransi, tanggung jawab, serta keprihatinan terhadap ketidak adilan. Begitu pula solidaritas terhadap mereka yang lemah, papa, dan terpinggirkan.

Orientasi Nilai
Terdapat kesepakatan luas bahwa pendidikan sebaiknya berorientasi pada nilai. Pendidikan tidak boleh terbatas pada sekedar transfer pengetahuan dan keahlian fungsional. Tidak kalah pentingnya adalah pengembangan jati diri dan kemampuan mengkritisi dan menularkan nilai dasar bersama, seperti kejujuran, keadilan, kerja keras, kesederhanaan, disiplin, dan kebersamaan. Sikap toleran misalnya, hanya tumbuh bila seseorang bangga atas jati dirinya.
Perlu juga ditekankan bahwa prestasi tidak akan dicapai dengan sikap instan, atau keinginan serba cepat seperti cepat pintar, cepat kaya, atau cepat terkenal. Bila tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia, perlu disadarkan bahwa pribadi yang merdeka bukan yang laissez faire, tetapi yang mampu mempertanggung jawabkan kemerdekaannya.
Selain itu sistem pendidikan sebaiknya terkait dengan dunia praktis, namun itu bukan berarti melulu berbicara tentang “materialisasi” pendidikan yang mengedepankan konsep ‘siap pakai’ bagi perekonomian. Dalam kehidupan dan profesi, sering hal – hal yang mendasar terjadi dalam ruang di antara batasan – batasan yang konvensional.
Profesi dan jurusan akademik baru misalnya, muncul di antara jurusan – jurusan klasik, sehingga memerlukan orientasi baru. Juga diperlukan pelajaran interdisiplin, seperti ‘campuran’ antara biologi, kimia dan etika. Atau matematika dengan elektronika dan sosiologi dengan ekonomi. Untuk itu, diperlukan fleksibelitas para guru dan murid, mahaguru dan mahasiswa.
Dalam mengantisipasi kebutuhan pasar akan tenaga kerja dalam negeri, regional dan global, sekolah kejuruan harus mendapatkan perhatian yang layak dan secara terus – menerus diperbarui. Jebolannya harus bisa bekerja dalam sebuah tim interdisiplin.
Adalah tidak sehat bahwa mereka yang tamat pendidikan dasar hanya memiliki sedikit pilihan selain melanjutkan ke SMU yang kemudian berkeinginan melanjutkan pendidikan ke universitas. Juga adalah kenyataan sebagian besar tamatan universitas tidak memilih profesi sebagai akademisi.
Sistem pendidikan juga sebaiknya tetap beragam. Kita bersyukur bahwa sejarah kependidikan Indonesia telah memunculkan keragaman model, lembaga, dan tradisi pendidikan. Ada model sekolah yang diadaptasi dari sistem pendidikan kolonial dan Eropa, adapula pesantren yang diadopsi dari budaya Hindu – Budha dan Islam. Juga ada sintesis dari berbagai budaya tersebut.
Lalu ada yang formal, nonformal, dan informal. Begitu pula negeri maupun swasta. Yang harus kita tanyakan secara jujur adalah lembaga pendidikan apa yang cocok untuk siapa? Sekolah formal misalnya, tidak selalu cocok untuk setiap anak pada semua tingkatan.
Karena itu, harus diupayakan agar apapun status dan modelnya, seluruh lembaga pendidikan memperoleh perhatian dan penghargaan optimal. Boleh memprioritaskan, tapi jangan ‘menganak emaskan’ yang satu dari pada yang lain. Juga harus dikembangkan kemungkinan melanjutkan pendidikan lintas model dan lintas lembaga.
Diperlukan sistem pendidikan yang memberikan ruang bagi anak didik untuk bersaing dan berkreasi secara ‘fair’. Fair juga berarti memberikan besiswa dan bantuan ekstra kepada mereka yang berasal dari lapis sosial bawah, sambil tetap memberikan penghargaan kepada siapapun yang berprestasi.
Lembaga pendidikan juga perlu dibebaskan dari kungkungan birokrasi yang tambun dan njlimet. Dalam hal suasana belajar – mengajar, metode dialog, diskusi, dan ‘mempertanyakan’ untuk mencari kebenaran yang lebih tinggi harus dibuka lebar – lebar.
Terakhir, dibutuhka sistem pendidikan yang efisien dalam pengelolaan waktu. Para guru dan murid agar tidak dibebani pelajaran yang berjubel.
Begitu pula agar waktu mengajar tidak terpaksa diperpendek karena dipakai untuk mencari penghasilan tambahan. Sebagian dari butir – butir harapan di atas masih menjadi mimpi yang dalam waktu dekat rasanya masih sulit untuk dijangkau. Tetapi hakikat reformasi adalah penciptaan keadaan yang lebih baik dari pada sebelumnya. Idealnya proses reformasi itu terjadi secara berkesinambungan dan terus menerus.
Untuk itu dibutuhkan keberanian, pengorbanan, dan kerelaan kita semua untuk melakukan terobosan – terobosan terhadap batas – batas sistem yang telah mapan dan baku. Tanpa itu kita hanya akan mengulang pola yang telah ada dalam cara yang tampaknya saja yang baru dan canggih, padahal tidak menghasilkan sesuatu yang baru. Ibaratnya sekedar memperbarui label, dan mungkin juga botol. Sementara isinya masih yang lama, yang boleh jadi sudah basi.


Tanggapan

  1. bagussssssssssssssss….sipp tipsnya…

    • Matur thank you……………………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: