Oleh: Ariya Ilham | 17 Juli 2009

PARASIT PENDIDIKAN

RENUNGKAN. Kalau ditanya siapa guru SD yang pertama kali mengajarkan huruf, kata, atau kalimat, bisa jadi sudah lupa. Nama guru SMP atau SMA, masih bersarang di memori? Bahkan, ada yang sudah lupa siapa dosennya? Banyak orang lupa kepada yang memberi, tetapi selalu ingat apa yang diberikan. Kurang eloknya pula, yang diingat guru ‘killer’, tetapi lupa guru yang berjasa.

Masih ingat sekolah tempat belajar ‘tempo doloe’? Mungkin Sampeyan kini bekerja di ruang ber-AC, punya penghasilan jutaan, atau sering seminar atau aneka kegiatan di hotel mewah. Dunia moderen, dunia kemewahan. Tetapi, pernahkan melihat alias berkunjung ke sekolah dimana dengan sarana dan prasarana, fasilitas seadanya, masih seperti sedia kala? Bisa jadi, lebih parah. Hampir roboh.

Ya, bisa jadi, ‘kita’ sudah punya rumah lumayan atau hidup di luar negeri, atau ‘menguasai’ negeri ini, namun lupa dari mana kehidupan dilambungkan. Lupa sekolah dan para pendidik. Kalau tidak, mustahil pendidikan di negeri ini berairmata darah. Sakit sesakitnya sakit paling sakit.

Saya punya illustrasi. Anak Pak Oemar Bakry, sebut saja Oemar Jr. kini telah jadi dosen. Bisa pula pengusaha atau anggota dewan yang sibuk dengan soal-soal keduitan. Bisa pula menteri atau presiden sekalian. Pintar karena guru, karena sekolah, karena bersekolah.

Suatu hari Oemar Jr. berandai-andai. Kalaulah untuk SD dihabiskan ‘subsidi’ Rp.25 juta, SMP Rp.25 juta, SMA Rp.50 juta, S1 Rp.100 juta, S2 Rp.200 juta dan S3 Rp.300 juta. Proses pendidikan menghabiskan uang Rp.700 juta dalam bentuk sarana dan prasarana, gaji guru, operasional dan segala macam.

Apakah tidak hina, ketika sudah ‘menjadi orang’ masih meminta-minta kepada pemerintah aneka fasilitas. Jangankan memberi, ‘membayar ulang’ apa yang diambil semasa pendidikan tidak mampu. Lagi pula, bukankah pemerintah begitu memprihatinkan? Kalah melulu. Hutang bertimbun-timbun.

Coba tanyai diri. Pernahkan datang ke sekolah tempat belajar dulu. Tempat menimba ilmu? Datang saja sangat membanggakan guru dan sekolah. Apalagi kalau menyumbang serupiah atau dua rupiah. Pernahkah?

Begitu banyak yang diambil tanpa pernah pernah diberikan. Setelah sukses, setelah ‘jadi orang’. Manusia macam apa itu? Bahkan, berjamaah berdendang tentang aneka keburukan sekolah dan guru, tempat dan manusia yang memintarkannya. Monyet saja tidak akan berprilaku demikian.

Galibnya, karena tamatan sekolah, para educated yang pintar-pintar, punya argumen kuat dan didengung-dengungkan; menyediakan fasilitas pendidikan adalah tugas negara (pemerintah). Ya, iyalah. Masalahnya negara kita bukan negara gemah ripah loh jinawi. Negara pengutang bo.

Perhatikan perusahaan atau instansi ketika merekrut pegawai. IP minimal 3, rekrumen orang cerdas. Hanya mengambil hasil pendidikan yang dibiayai negara. Sudah begitu, mempekerjakan mereka untuk ‘merampok negara’. Mengambil gratis, memilih pula, diberdayakan, … tidak mau berbagi. Luar binasa.

Kalaulah perusahaan atau instansi mau berbagi dengan lembaga pendidikan darimana pegawainya berasal, dijamin sekolah-sekolah akan menjadi sekolah benaran, bukan sekadar tempat belajar. Semua pihak, mengambil dari pendidikan, tetapi kalau soal berbagi, bemiliar-miliar alan siap sedia mendukung. Paling celaka, para anak harimau tersebut, membom kebobrokan sekolah, kualitas pendidikan, mutu guru, tanpa berkontribusi. Aneh. Maunya gratsi melulu. Menghajar kan gratis. Gila.

Merenunglah. Kalau sampai hari ini tidak pernah mengunjungi sekolah, mendatangi guru atau dosen, apalagi berkontribusi pada pendidikan, bukan tidak mungkin terkategori menjadi parasit pendidikan. Kalau perilaku demikian, lalau meminta dan terus meminta kepada pendidikan sembari mencaci-maki disana-sini tanpa mau berbagi, berkontribusi barang serupiah, itu mBahnya parasit; parasit pendidikan sempurna.

Saya hanya berdoa … semoga kita semua terhindar dari hal-hal sedemikan (syair lagu, lho). Dan, menjadi pembelajaran berharga.

Ya Allah, ya Rabb, bukanlah pintu hati agar tidak mengeluh dan selalu mengeluh kepada pendidikan nasional yang sekarat. Gerakkan nurani kami, untuk memberi. Berkontribusi secara nyata. Pendidikan tidak hanya memerlukan nasehat, usulan, atau harapan, tetapi butuh hal nyata, kontribusi kita semua. Maukah? Ngak jamin deh. Kalau memberi, berbagi, kami punya segudang alasan.


Tanggapan

  1. Artikel yang sangat menyentuh dan mengigatkan kita.
    Jadi inget pepatah dari negaranya Ahmadinejad, “Kalau hari ini ada ada seorang sastrawan yang menulis kata yang abadi, kalau hari ini ada seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya, kalau hari ini ada seorang penemu alat yang bermafaat bagi setiap orang, semua berawal dari guru yang mencintai profesinya”.
    Tak heran hari guru disana dirayakan dengan mengumpulkan emas dari para orang tua murid untuk deserahkan buat gurunya.

  2. Tulisan yang sangat menarik, kritis serta membangun…. trim’s

    • Ok Sama2…
      semoga saja bisa bermanfaat demi pembangunan pendidikan di negeri ini….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: