Oleh: Ariya Ilham | 26 Juli 2009

Anas: Penolakan Mega-Prabowo Pertanda Demokrasi Masih Muda

Langkah Mega-Prabowo menolak keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengenai hasil penghitungan perolehan suara Pilpres 2009 dinilai oleh Ketua DPP Partai Demokrat (PD) Anas Urbaningrum sebagai tanda elemen demokrasi masih muda.

“Ini adalah tanda elemen demokrasi kita masih muda. Sportifitas, kedewasaan dan sikap legowo perlu ditingkatkan,” kata Anas kepada detikcom Sabtu 25 Juli 2009.

Menurut Anas, seharusnya dibangun tradisi menerima kekalahan secara elegan.

“Tetapi, kita optimis sekali pun pihak yang tidak puas menempuh jalur hukum.
Bagaimana pun juga itu adalah sebagian dari konsekuensi negara demokrasi,” ujar mantan anggota KPU ini.

Sementara itu seperti diberitakan INILAH.COM, Partai Demokrat mengakui adanya kekurangan dalam penyelenggaraan Pilpres 2009. Meski begitu, kekurangan tersebut diyakini tidak merugikan atau menguntungkan pasangan capres tertentu.

Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyatakan, menerima atau menolak hasil Pilpres adalah hak masing-masing pasangan calon. Sebab, selemah apa pun alasannya dan seganjil apa pun dalihnya, termasuk menolak berkas hasil rekapitulasi KPU, mereka tetap menghormatinya.

“Memang ada yang kurang dalam penyelenggaraannya. Juga tidak menyebabkan turunnya angka partisipasi politik. Malah tingkat partisipasi meningkat menjadi lebih dari 72 persen,” kata Anas Urbaningrum di Jakarta.

Pemungutan dan penghitungan suara juga, menurut dia, berjalan baik serta lancar. “Artinya, pilpres berjalan demokratis. Malahan terjadi kompetisi yang terbuka, menarik dan menghibur,” tambah Anas lagi.

Karena itu, ujarnya lagi, kekurangan dalam penyelenggaraan Pilpres 2009 dianggap tidak mengganggu keabsahan maupun legitimasi politik hasilnya.

“Angka hasil pilpres adalah cermin otentik kemauan politik rakyat. Suara rakyat adalah yang paling tinggi pangkatnya dalam demokrasi,” tegasnya.

Makanya, ia berharap, terhadap hasil pilpres tersebut, seyogianya harus disikapi secara demokratis, dewasa dan sportif.

“Keberanian untuk berkompetisi dan mengejar kemenangan perlu dikawinkan dengan kemampuan untuk menerima kekalahan dengan legowo. Bukan dengan defisit sportifitas. Kalah menang adalah konsekuensi dari keberanian berkompetisi,” tukasnya.


Tanggapan

  1. disikapi secara demokratis, dewasa dan sportif, mirip maradona menyarangkan gol ke gawang inggris dengan tangannya, maka argentina juara..hehehe..sportif.

    • Iya seharusny emg spt itu…
      Tp kenyataannya sekarang sepertinya tidak bisa menerima kekalahan itu yang terjadi…
      Indonesia tidak akan pernah maju jika masih dipimpin oleh orang yang tidak bisa menerima kekalahan,”tidak leghowo”.
      Hahahahaha…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: