Oleh: Ariya Ilham | 27 Juli 2009

Proses Pendidikan Menuju Industrialisasi

Dilema sistem pendidikan di dunia kontemporer saat ini adalah tentang konsep pragmatisme dan idealisme pendidikan. Amerika sebagai produsen ide-ide pragmatis, yang kemudian menjadi aliran filsafat abad ke-20, menekankan pentingnya ide-ide atau konsep itu pada satu hal saja, yaitu nilai-guna. Dari tradisi pemikiran ini bisa kita menyebut nama seperti Charles Sanders Pierce, John Dewey dan akhirnya sampai ke Noam Chomsky, bapak linguistik Amerika. Dari titik ini pula, pendidikan pun berkembang menjadi trend abad modern yaitu untuk nilai-pakainya dan bukan pada nilai pembebasannya atau nilai memanusiakannya.

Sementara itu, ide-ide dan metode-metode yang bersifat ideal biasanya berasal dari pemikiran-pemikiran Eropa Klasik, Eropa Pertengahan, abad modern dan berlanjut sampai konteks pemikiran kontemporer saat ini. Tradisi ini dimulai saat pemikiran-pemikiran Yunani yang berkembang seperti Sokrates dan Aristoteles, dilanjutkan pada zamannya St.Augustinus dan Thomas Aquinas ke pemikiran abad Renaissance, abad modern dan post-modernisme. Benang merah dari evolusi pemikiran Eropa ini adalah tetap stagnan pada konsep ideasional. Ini tetap berlanjut sampai pada tradisi yang coba dibangun para pemikir raksasa Neo-Marxis — strukturalis, post-strukturalis dan mazhab Frankfurt sekarang.

Dialektika pemikiran ini, sebenarnya, tidak saja berimplikasi pada konstruksi teori-teori dan praktik ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga berdampak pada aplikasi sistem, struktur dan tujuan. Di sinilah sebenarnya relevansi dari wacana yang mengatakan bahwa realitas dunia ini terdiri atas struktur-struktur atau bangunan-bangunan yang tidak nyata, tetapi ia bisa menemukan konvergensinya dalam praktik hidup sehari-hari. Dari sana pula, sistem pendidikan mengalami tahap-tahap evolusi yang terus berkembang sampai hari ini, baik pada substansi ataupun pragmatisnya. Singkatnya lagi, pendidikan manusia itu (untuk apa) jika bukan untuk mengaplikasi.

Maka di saat yang bersamaan itu pragmatisme unggul di atas idealisme karena berbagai faktor, tetapi yang terutama karena ada semacam Being by the biggest design. Idealisme pendidikan pun dibalikkan logikanya sekaligus rontok, bukan lagi pada tataran ideal, Being for the biggest design. Maksudnya, pendidikan pun sebagai salah satu aspek hidup dan kehidupam manusia mengalami degradasi yang hebat karena tekanan dari pertarungan dua konsep pemikiran besar itu. Kondisi ini semakin memburuk ketika kapitalisme global memihak pada salah satu dari kedua pemikiran itu yaitu, pragmatisme pemikiran.

Intinya adalah, sistem dan materi pendidikan harus didasarkan pada nilai pakainya. Untuk apa konsep nilai pakai ini dan siapa yang menginginkan nilai pakai itu? Tentu sangat mudah menjawabnya; bahwa hal itu mengingat kebutuhan global sekarang bukan pada penciptaan kembali ide-ide, tetapi mengaplikasi ide-ide untuk realitas dalam hal ini menguatkan kemapanan kapitalisme global. Sekali lagi, kita dididik untuk memapankan sistem kapitalisme global. Di saat bersamaan, Ivan Illich menyebut fenomena ini sebagai ”Industrialisasi Manusia” dan ”Monopoli Radikal” yang menciptakan kemiskinan modern.

Kebutuhan Instan

Persoalan idealisme dan pragmatisme pendidikan efeknya menyeluruh ke dalam semua dimensi kehidupan sosial, termasuk sistem pendidikan kita. Sebenarnya, hal itu telah ”dimanfaatkan” dan ”dikondisikan” oleh skenario sistem tersebut, di mana ia menjerat dunia hari ini: kapitalisme global.

Ketika berbicara soal ”adanya sesuatu itu karena didesain sedemikian rupa”, maka yang perlu dicermati lebih dalam lagi jika kita berbicara tentang berkualitas atau tidaknya out-put pendidikan itu adalah keterpaksaan yang nyata hari ini untuk kebutuhan yang instan. Lalu, persoalan kualitas tidak terfokus lagi pada perdebatan antara sekolah/universitas negeri-swasta, akan tetapi lebih terfokus pada faktor-faktor apa saja yang bisa mendongkrak kualitas itu dan bagaimana cara melakukan pendobrakan itu.

Titik persoalannya pada kecenderungan sebagian masyarakat saat ini untuk berbuat demikian lantaran dipaksa oleh sebuah aturan dan sistem yang selalu mengukur kualitas itu dengan ijazah. Ini adalah masalah nilai dan sistem pendidikan kita yang bobrok dan bukan institusinya. Pemalsuan ijazah hanyalah ekses dan imbas dari nilai dan sistem negara kita yang didikte oleh sistem yang lebih besar dan kuat, termasuk sistem pendidikan yang cenderung menciptakan tukang-tukang.

Selain imbauan moral untuk aparat pemerintah, perlu ditambah lagi bahwa paradigma masyarakat tentang pendidikan dan hegemoni kapital dalam dunia pendidikan sudah saatnya didobrak. Perlu dilakukan sebuah terobosan untuk menggembosi kemapanan itu. Kata kuncinya ialah penyadaran. Program penyadaran bisa bervariasi bentuk dan wujudnya dalam pelaksanaan. Hal itu bisa dikembalikan kepada masyarakat.

Penyadaran kepada masyarakat harus diberikan, bahwa pendidikan itu tidak melulu formalitas seperti jenjang-jenjang yang ditempuh: SD, SMP, SMA dan universitas, dan pengetahuan itu sendiri tidak melulu berasal dari bangku sekolah. Pengetahuan dan kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh kurikulum-kurikulum baku dari pemerintah yang selalu mengejar pendiktean kebutuhan bursa pasar kerja. Untuk mendobrak hegemoni institusi formal, sedini mungkin harus disosialisasikan ide-ide penyadaran tentang hakikat sekolah dan kaitannya dengan pengetahuan.

Yang menjadi pokok persoalan sebenarnya, ketika merenungkan kaitan antara kualitas pendidikan dan institusinya ialah sarana. Sarana pendukung merupakan fondasi mutu pendidikan. Dalam hal ini, sama sekali tidak terletak pada sarana fisiknya, tetapi sarana nonfisik yaitu buku-buku bacaan. Di Indonesia, yang menjadi ukuran kualitas selalu dijumbuhkan pada fasilitas ruangan, gedung, tempat parkir dan segala macam kemewahan bangunan fisik lainnya. Bagaimana dengan sarana perpustakaannya? Di perpustakaan Universitas Indonesia, misalnya, cuma terdapat kurang lebih 9.000 judul buku, sedangkan jika diperbandingkan dengan perpustakaan pribadi Ernest Hemingway di Havana, Kuba, jumlahnya melebihi koleksi buku di perpustakaan UI. Perbandingan ini sangat kontras; antara milik pribadi dan milik negara. Sungguh memilukan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: