Oleh: Ariya Ilham | 28 Juli 2009

Agenda Islam yang Membebaskan

Ada kesan yang terbentuk bahwa Islam dari awal hadir dengan wajah yang keras, penuh pemaksaan, dan intoleransi. Apakah ini benar? Tampaknya, statemen ini tak lagi bisa dipertahankan bagi kehidupan kita sekarang. Kita menuntut keterbukaan, toleransi, dan persamaan hak. Sehingga wajah Islam yang semula lusuh, terbelakang, dan ahistoris tak lagi memiliki tempat dalam kehidupan modern ini.

Islam adalah agama pembebas. Ya, agama yang mampu menyelesaikan segala problem umat dan mampu memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan kontemporer. Kita sadar bahwa saat ini problem yang hadir ketengah-tengah kita, dari mulai tingkat individu, masyarakat, maupun negara semakin komplek. Dan itu semua adalah agenda Islam dalam rangka membebaskan, mencerahkan dan memberikan problem solving dari setiap persoalan masyarakat.

Kita dituntut untuk selalu menggunakan perspektif dan paradigma baru dalam melihat berbagai persoalan yang kita hadapi. Sebagaimana kaum muslim awal yang melihat persoalan dimasanya menurut perspektif mereka sendiri. Tuntutan itu semakin nyata ketika kita berhadapan dengan berbagai macam beban dan tanggung jawab kita di masyarakat dewasa ini. Kita akan menghadapi pilihan, menggunakan penyelesaian dengan perspektif kekinian atau masa lalu. Jika kita menggunakan perspektif kekinian kita dituntut berpikir progresif dan transformatif. Sedangkan perspektif lama akan membawa kita pada posisi alienasi dari dunia dimana kita hidup.

Tiga Agenda

Satu abad silam, sejak era kebangkitan Islam dimulai, berbagai persoalan umat Islam telah menjadi perdebatan di wilayah publik. Paling tidak, ada tiga agenda utama yang menjadi bahasan intelektual muslim selama ini. Yakni: agenda toleransi agama, emansipasi wanita, dan agenda kebebasan berekspresi (Charles Kurzman, 1998).

Jika kita sepakat, maka kita dituntut untuk melihat ketiga agenda ini dari perspektif kita sendiri, bukan dari perspektif masa silam yang lebih banyak memunculkan kontradiksi ketimbang penyelesaian yang baik.

Pertama, toleransi agama. Agenda ini menyangkut kehidupan beragama antar agama-agama. Diakui atau tidak kita hidup didaerah yang plural, terdiri dari berbagai agama. Kendati kaum muslim di Indonesia menempati posisi mayoritas, namun kita sering lengah dengan nilai-nilai toleransi dengan agama lain, selain Islam. Dengan semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di negara-negara muslim, pencarian teologi pluralisme tampaknya menjadi sesuatu keniscayaan yang tak bisa ditawar lagi. Kita sering mengambil kepemimpinan Nabi di Madinah sebagai model percontohan adanya toleransi umat beragama yang plural. Dengan adanya model ini, Islam kemudian dikenal sebagai agama yang santun, plural dan menghargai agama lain (toleran).

Namun percontohan adanya nilai-nilai plural itu sebetulnya bukan hanya melekat pada kepemimpinan Nabi, khususnya ketika di Madinah. Dalam al-Quran sendiri kita banyak menemui beberapa ayat yang mendorong kita untuk hidup dalam suasana yang sejuk dan santun antar keyakinan selain kita. Bukan saja perintah untuk menghormati agama-agama lain, namun juga perintah untuk saling mencari kesamaan-kesamaan (Kalimatun Sawa), (Q.s Ali Imran [3]: 64).

Terlihat juga dibeberapa ayat lain di al-Quran bahwa Allah menjamin para penganut agama-agama lain (Yahudi, Kristen, Sabean) akan mendapatkan pahala sesuai dengan perbuatan baik mereka dan dijamin berada dalam lindungan Allah (Q.S. 2: 62 dan Q.S. 5: 69). Ayat-ayat seperti ini kemudian mengangkat dan memperkuat ayat-ayat lainnya yang menyatakan bahwa semua agama, selama mengakui ketertundukannya kepada Allah (yang merupakan makna dari kata “Islam”), pada dasarnya adalah sama. Jangan heran kalau Nabi Muhammad pernah menyatakan bahwa agama yang paling dicintai Allah adalah “al-Hanafiyah al-Samhah” (semangat kebenaran yang toleran).

Agenda ketiga, emansipasi wanita. Agenda ini mengingatkan kita akan bagaimana dengan semakin majunya peradaban zaman, ternyata semakin marak pula kekerasan, pelecehan dan pendiskreditan terhadap perempuan. Agenda ini mengajak kaum muslim untuk memikirkan kembali beberapa doktrin agama yang cenderung merugikan dan mendiskreditkan kaum perempuan. Hal ini karena doktrin-doktrin tersebut –dari manapun sumbernya—bertentangan dengan semangat dasar Islam yang mengakui persamaan dan menghormati hak-hak semua jenis kelamin (lihat misalnya Q.S. 33:35, Q.S. 49: 13, Q.S. 4: 1).

Untuk itu, kita perlu bersikap kritis terhadap segala macam teks dan pesan yang mempunyai potensi terhadap pendiskreditan dan pelecehan terhadap perempuan. Karena bagaimanapun juga sebagian dari pesan-pesan yang terkandung dalam warisan-warisan keagamaan itu terbentuk oleh kondisi sosial (cultur) budaya tertentu. Karenanya, kita perlu mengadakan penafsiran ulang (reinterpretasi) dan pemahaman ulang.

Kemudian agenda keempat tentang kebebasan berekspresi/berpendapat. Agenda ini menjadi penting kiranya dalam kehidupan kaum muslim modern, khususnya ketika persoalan ini berkaitan erat dengan masalah hak-hak asasi manusia (HAM). Bagaimana tidak? Lihat saja, pasca tragedi berbagai kasus bom di muka bumi ini: tragedi WTC, Bom Bali, JW. Marriot dan berbagai teror bom lain yang semuanya masih menyisakan banyak problem, terutama masalah HAM. Dengan berbagai kasus tersebut, membuat kita mengerutkan dahi, sebetulnya bagaimana Islam menyikapi hal-hal tersebut? Jika Islam menghargai hak-hak manusia, tentunya berbagai macam teror bom dan segala pernik kekerasan di muka bumi ini tidak perlu terjadi.

Masalah lain, di negara yang cukup plural ini, Indonesia meniscayakan segala macam perubahan demi kemajuan bangsa kedepan. Untuk itu, perlu adanya usaha yang konkret dalam mendudukkan kebebasan setiap manusia untuk berpendapat secara terhormat.

Sebetulnya, Islam sangat menghormati hak-hak asasi manusia, dan dengan demikian, juga menghormati kebebasan berpendapat. Sejak dibukanya kembali “pintu ijtihad” lebih dari satu abad silam, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk takut memiliki pendapat pribadi. Pendapat (ijtihad) adalah sesuatu yang sangat dihargai dan dihormati dalam Islam. Begitu dihormatinya sebuah pendapat, sebuah kaedah fikih menegaskan bahwa seseorang akan diberikan dua pahala jika benar dalam berijtihad, dan diberikan satu pahala jika salah. Ini menandakan bahwa Islam begitu menghormati pendapat setiap manusia.

Atas dasar itu, Islam menghargai pendapat atau karya seseorang. Tak ada hak bagi siapapun untuk melarang seseorang memiliki kebebasan berpendapatnya. Namun demikian, Islam mengakui adanya batasan-batasan dalam berekspresi. Ekspresi adalah persoalan cara dan bukan kepemilikan yang berimplikasi pada masalah hukum yang menjadi urusan negara. Seseorang yang melanggar cara-cara berekspresi, akan berhadapan dengan undang-undang yang telah diatur oleh negara.

Dengan demikian, kasus-kasus kebebasan berekspresi dan pelanggaran HAM yang selama ini menimpa kaum muslim, menjadi wewenang negara untuk menyelesaikannya, bukan wewenang para ulama atau tokoh agama apapun. Para ulama tidak memiliki hak untuk menilai dan apalagi menghukum seseorang berkaitan dengan kebebasan berpendapatnya.

Akhirnya, dengan tiga agenda diatas kita perlu menciptakan kesan dan citra yang baik terhadap Islam. Jika selama ini ada kesan yang terbentuk bahwa Islam dari awal hadir dengan wajah yang keras, penuh pemaksaan, dan intoleransi, sudah saatnya bagi kita untuk melakukan satu rekonstruksi terhadap bangunan yang hampir roboh ini. Artinya, statemen ini tak lagi bisa dipertahankan bagi kehidupan kita sekarang. Kita menuntut keterbukaan, toleransi, dan persamaan hak. Sehingga wajah Islam yang semula lusuh, terbelakang, dan ahistoris tak lagi memiliki tempat dalam kehidupan modern ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: