Oleh: Ariya Ilham | 28 Juli 2009

Jual Beli Nilai dan Moralitas

Ternyata, aib yang menimpa perguruan tinggi pasca munculnya wacana komersialisasi pendidikan kini bertambah dengan hadirnya praktek jual beli nilai. Sungguh memprihatinkan! Jika hal ini benar adanya, maka ini berarti menambah daftar pemerosotan nilai dan norma (kemudian dikenal dengan Tri Darma Kampus) yang ada di perguruan tinggi.

Diakui atau tidak, praktek jual beli nilai ini makin marak, hingga kemudian identitas sakral perguruan tinggi sebagai kawah candradimuka bagi generasi muda kita semakin terlupakan. Wacana jual beli nilai kemudian menjadi trend terselubung dan kini dengan santainya melenggang diatas ranah kampus-kampus yang katanya meneriakkan perubahan, menolak kolusi, dan profesionalisme dalam setiap bidang garapan. Idealisme itu seakan luluh oleh praktek sebagian kelompok yang menginginkan jalan pintas dalam meraih kesuksesan semu dengan memperoleh nilai secara tidak sah.

Menurut Lathifah Hanim (Debat Mahasiswa, kamis, 11 september 2003), maraknya jual beli nilai, pada dasarnya hasil dari ketidakmampuan para pelaku memahami apa arti nilai. Hal ini bisa jadi benar jika kita melihat dari sisi etimologi nilai atau seputar pemahaman secara bahasa mengenai nilai. Namun dalam prakteknya dapat diketahui dua faktor yang kiranya menjadi penyebab timbulnya praktek jual beli nilai.

Pertama, arah orientasi pendidikan kita selama ini lebih mengarah pada aspek kognitif. Artinya, orientasi utama seorang mahasiswa, misalnya dalam perguruan tinggi adalah bagaimana bisa mencapai nilai (indeks prestasi/IP) tinggi dan lulus dengan cepat, nilai memuaskan. Hal ini akan menumbuhkan dampak positif dan negatif.

Dampak positif itu bisa tumbuh jika mahasiswa atau pelajar bisa menempatkan aspek ini secara profesional. Artinya, sebuah nilai bagus, dan kelulusan adalah sebuah target. Namun jika target itu tidak diimbangi dengan proses pemahaman dalam pencapaian nilai (baca: aspek moral), maka ini yang akan membentuk dampak negatif, yakni tumbuhnya “nalar nilai”, singkatnya orientasi tunggal yang ia punya hanya berpusar pada nilai. Bagi saya, yang terpenting disini adalah mengedepankan aspek moral. Bayangkan saja, seorang mahasiswa yang memperoleh nilai bagus namun didapat dengan cara yang tidak sah (jual beli nilai), ini akan dicap hina. Lebih baik yang memperoleh nilai cukup, namun semata-mata ia peroleh dari hasil kerja keras dan usaha sendiri. Hal ini menjadi super penting, sebab implikasi besar dari semua itu adalah mencetak generasi penerus bangsa. Sehingga, keberhasilan dalam mencatak generasi muda adalah menjadi aspek utama pembangunan bangsa.

Kedua, faktor ekonomi. Faktor ini menjadi hal penting yang menyebabkan jual beli nilai. Bagaimana tidak. Lihat saja, kondisi negara yang kini sedang mengalami krisis ekonomi/moneter. Kondisi ini kemudian memunculkan stigma bahwa segala sesuatu itu bisa diukur dengan materi (uang). Celakanya, ukuran uang ini juga jelas terlihat di wilayah kampus, salah satunya menjelma dalam praktek jual beli nilai.

Praktek ini makin menjadi dan tumbuh subur oleh dukungan dua elemen penting dalam kampus (sebut saja dosen dan mahasiswa). Satu sisi, dosen membutuhkan satu pengakuan “berhasil” dalam mengajar mahasiswa dimata dosen lain atau dimata atasan. Ditambah, iming-iming praktek penjualan nilai ini menjurus pada orientasi materi (uang). Kendati mereka (penjual nilai) hanya berbekal posisi strategis sebagai seorang pengajar/dosen, namun dengan ‘PD’ (percaya diri) mereka kemudian menggunakan status pengajar/dosen sebagai senjata ampuh dalam menjalankan transaksi jual beli dengan para pembeli. Realitas ini membuat idealitas para dosen dalam mencetak generasi muda penerus bangsa harus bertekuk lutut tak berdaya diatas seonggok uang/materi dan bentuk penghargaan lain.

Disisi yang lain, mahasiswa pun menjadi aktor yang tak kalah penting dalam suksesnya transaksi nilai ini. Mereka seolah bangga dengan nilai hasil pemberian dosen yang sebenarnya tak sebanding dengan jerih payah yang mereka lakukan. Sebab nilai hasil transaksi itu akan memberikan ukuran baik terhadap panerima nilai. Artinya, jika ukuran nilai baik sudah ditangan, maka ia telah mencapai lefel aman, yakni kelulusan. Akhirnya, orientasi yang kemudian hinggap dikepala mereka adalah nilai, bukan semata-mata keberhasilan dan kesuksesan yang sebenar-benarnya dari jerih payah mereka. Dalam hal ini penulis sepakat ketika Lathifah Halim (Debat Mahasiswa, kamis, 11 september 2003) dalam tulisannya, mengatakan bahwa ketika praktek ini terjadi orientasi mereka telah menyimpang dari norma-norma pengajaran, hingga yang dicari hanyalah nilai, tidak didasari kemampuan memahami secara jujur atas kemampuan diri serta arti nilai itu sendiri. Dalam arti nilai yang sebenarnya (secara filosofi) adalah sesuatu yang harus diberikan oleh sang penilai atas hasil nilainya terhadap objek yang dinilai secara objektif.

Akhirnya, menjadi benar apa yang dikatakan oleh Agus Wariyanto (Debat Mahasiswa, Kamis, 11 september 2003), bahwa jual beli nilai merupakan kecurangan ilmiah yang dapat memporak porandakan kejujuran ilmiah yang selama ini dibangun di perguruan tinggi. Imbasnya, citra kampus yang selama ini ada akan berubah seiring dengan berkembangnya opini masyarakat.

Sekadar memperjelas pesoalan, Hasan Toha Putra dalam artikelnya menuliskan: ada tiga elemen penting dalam sistem pendidikan; masukan sumber, proses pendidikan, dan hasil pendidikan. (Suara Merdeka, Jum’at 12 September 2003).

Tiga elemen tersebut menurut saya cukup penting untuk setidaknya diperhatikan dalam rangka refleksi kita terhadap munculnya fenomena transaksi nilai. Pertama, masukan sumber. Pemahaman saya, adalah SDM (sumber daya manusia) yang ada di perguruan tinggi dikala masuk (input). Kualitas SDM ini sangat menentukan bagi terbentuknya hasil pendidikan (output). Hasil pendidikan ini pun ditentukan oleh bagaimana proses pendidikan yang berjalan.

Oleh karena itu, proses pendidikan yang didalamnya mengandung berbagai aspek, salah satunya: aspek moral ini menjadi penting artinya jika evaluasi yang selama ini ada, aspek moral menjadi penyebab terbentuknya fenomena jual beli nilai.

Kita tidak bisa mencari kambing hitam siapa yang salah dalam hal ini. Adanya jual beli nilai bukan karena dosen, mahasiswa dan civitas akademika. Namun aktifitas itu hadir sebagai jawaban atas pertanyaan: sejauh mana tingkat atau kualitas pendidikan moral yang ada di perguruan tinggi tersebut ?

Munculnya kasus jual beli nilai ini secara tidak langsung sebagai gambaran sekaligus cermin rendahnya kualitas pendidikan. Kita tidak ingin, aib yang telah menempel dan telah menjadi trade mark bahwa perguruan tinggi telah menjadi lahan basah terciptanya budaya komersil, bertambah dengan adanya praktek jual beli nilai.

Kita ingin menghentikan daftar pemerosotan nilai dan moral itu cukup sampai disini. Aib yang lalu cukup menjadi bahan refleksi bagi kita agar menjadi pelajaran untuk kedepan. Kasus jual beli ini patut menjadi perhatian serius semua elemen bangsa. Karena hal-hal yang sebagian orang menganggap remeh macam jual beli nilai adalah berimplikasi besar bagi terbentuknya moralitas bangsa.

Apa jadinya bangsa ini jika para calon penerus bangsa ini terbentuk melalui budaya yang curang. Pada gilirannya, kita tidak bisa tinggal diam melihat kecurangan ilmiah itu terjadi. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama bagi terbentuknya pembangunan pendidikan yang berbasis pada aspek moral dan kejujuran ilmiah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: