Oleh: Ariya Ilham | 31 Juli 2009

Dunia Pendidikan Yang “Cengeng”

Membaca berita akhir akhir ini cukup membuat saya terkesima, mulai dari kasus kekerasan yang di lakukan guru terhadap siswa, ujian nasional yang kecurian sampai di ulang, bantuan komputer fiktif sampai mentalitas siswa yang cengeng. Semua adalah lika liku fenomena pendidikan di Indonesia. Perjalanan dunia pendidikan Indonesia yang bisa di katakan naik turun menjadi sebuah fenomena menarik yang bisa menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi para pemerhatinya. Sebut saja bagaimana pola pendidikan yang terus di jadikan “kelinci percobaan politik” oleh para elit politik dan pejabat di negeri ini. Perubahan terus di lakukan entah dengan tujuan murni peningkatan kualitas ataukah sekedar “aji mumpung”. Semua hanya bisa terjawab oleh perjalanan waktu yang semakin hari semakin cepat dan membutuhkan kesiapan dalam persaingan sumber daya manusia.

Guru sebagai pendidik, pengajar dan pengayom cenderung menjadi alat yang selalu “pantas” di salahkan dalam setiap langkah pendidikan yang di ambil. Sebagai ujung tombak pendidikan guru di anggap sampai saat ini masih sekedar aset untuk motor penggerak kepentingan sebuah golongan atau bahkan sebagai alat yang di persalahkan ketika program tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sebut saja Ujian Nasional, jika siswa tidak lulus maka guru adalah orang pertama yang pasti di salahkan oleh masyarakat terutama orang tua, pimpinan sekolah sampai kepada pemerintah. Dan jika seluruh siswa lulus maka kecurigaan di munculkan oleh masyarakat, pemerintah dan orang tua dengan menyampaikan metode pembocoran ujian. Sementara di satu sisi seperti ekonomi penghargaan terhadap seorang guru masih sangat tidak seimbang dengan pengorbanan yang di berikan terutama ketika kita bicara guru di daerah dan guru swasta di sekolah sekolah dengan tingkat ekonomi menengah kebawah.

Tidak hanya itu ketika terjadi sebuah ketegasan dengan melibatkan emosional sesaat yang sangat manusiawi, guru langsung menjadi sorotan masyarakat dan langsung di cap tidak pantas. Padahal secara pengalaman keterlibatan emosional guru justru membawa dampak positif kepada siswa/i untuk nantinya akan bertemu dengan dunia nyata atau kerja yang penuh dengan keterlibatan emosional dari setiap unsur lingkungan kerjanya. Sebagai contoh adalah penerapan ketegasan guru dengan melakukan “kekerasan fisik” terhadap siswa, apakah ini di benarkan ?, ya saya adalah orang yang masih menganut ketegasan demikian. Menampar seorang siswa/i tentunya dengan perhitungan untuk memberikan ketegasan yang menunjukan bahwa kesalahan yang mereka buat cukup berat adalah hal yang wajar. Hal itu saya wacanakan sebagai tindakan yang perlu di lakukan untuk memberikan kesan bahwa masalah yang dibuat oleh siswa/i tersebut tidaklah masalah kecil sehingga tidak di sepelekan oleh mereka. Sayangnya orang tua dan masyarakat cenderung hanya melihat dari satu aspek yakni kekerasan yang di lakukan tanpa melihat sebab musababnya. Hingga akhirnya guru kembali di salahkan dan siswa/i menjadi sangat di manja dan bahkan bisa “mengancam” guru.

Oleh karena itu jika anda melihat siswa/i Indonesia terutama di beberapa kota besar seperti Jakarta, kita akan melihat banyak generasi “cengeng” yang bermunculan di sekolah sekolah. Jika tahun 1980, kita banyak di cekoki dengan lagu lagu cengeng tetapi mental baja di latih, sekarang justru kebalikannya, lagu dengan music band beraliran keras atau pop tetapi mentalitas “cengeng” dalam kehidupan. Untuk itu bagi para orangtua, masyarakat dan pemerintah, sudah saatnya bagi anda melihat lebih jauh lagi tentang dunia pendidikan anak anda. Ingat anda terbentuk bukan oleh pendidikan yang sekarang ini, tetapi pendidikan yang keras pada jaman sebelumnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: