Oleh: Ariya Ilham | 31 Juli 2009

Membangun Kepribadian Muslim

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu, untuk manusia supaya mereka memperoleh peringatan. Dan perumpamaan kalimat yang buruk, seperti pohon yang buruk, yang terbongkar dari tanah tidak dapat tetap tegak. Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Dan Allah menyesatkan Orang-orang yang dzalim. Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (QS. Ibrahim [14]: 24-27)

Iftitah

Sebuah pertanyaan klasik bagi kita, “Indonesia adalah negara terbesar di dunia yang menganut agama Islam. Mengapa bangsa kita tidak mampu memberikan suri teladan sebagai bangsa yang terbaik?” Sungguh sebuah pertanyaan yang menguji bagi para pendidik muslim sekaligus wajib menjadi agenda besar kita untuk mengkaji ulang apa yang telah kita perbuat, dan menganalisa kembali metode yang telah “mendarah daging” dalam dunia pendidikan Indonesia. Bangsa kita tidak menjadi “khaera ummah” yang mencerminkan ajaran dan akidah Islamiyah. Bahkan bukan saja bangsa Indonesia, tetapi negara-negara muslim lainnya yang terlanda kemunduran semenjak era penjajahan negara-negara barat terhadap negara Islam di belahan dunia timur tidak kunjung tiba indikasi perubahan kepada yang lebih baik.

Pada makalah singkat ini, Penulis menyajikan sebuah kajian konsep pendidikan yang mencoba untuk mencakup semua aspek, bukan saja dipahami pendidikan agama ritual seremonial belaka, tetapi pendidikan dalam arti yang lebih umum dan menyeluruh sebagai kesatuan konsep. Kajian ini berangkat dari metode-metode yang ditawarkan Al-Qur`an dan Hadis sebagai petunjuk bagi umat Islam. Inilah yang akan menjadi salah satu paradigma pendidikan Islam yang dapat menata ulang serta membangun karakter bangsa kita.

Pendidikan Sekuleristik.

Kemunduran yang dialami umat Islam akibat dari pemahaman sekulerisme yang ditularkan oleh Barat bahwa agama tidak akan mampu membangun peradaban, bahkan sebaliknya, agama hanya akan menghambat kemajuan peradaban manusia (modernitas). Pemisahan antara urusan agama dan urusan duniawi sangat bertentangan dengan misi Islam. Disadari atau tidak, ternyata pemahaman ini telah banyak dipraktekkan dan dilestarikan oleh umat Islam sendiri. Memenjarakan agama hanya dalam satu sangkar kegiatan ritual individu atau terbatas pada masalah “ahwâl syakhsiyyah” adalah keberhasilan kaum imperialis yang sampai sekarang kita alami.

Kesalahan yang amat fatal adanya dikotomi antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama, ini seolah-olah menjadi bukti konkrit bahwa agama bukan ilmu pengetahuan umum, dan ilmu umum bukanlah agama. Maka sangat sulit kita menerima sebuah konsep holistik bila paradigma sekulerisme menjadi acuan pendidikan kita. Yang pada akhirnya pendidikan yang ada tidak mampu mem-planing pembangunan “kecerdasan Intelektual” (IQ). Agama tidak mampu melakukan apa-apa untuk pembangunan masyarakat modern. Seorang ilmuwan (scientist) tidak akan paham agama adalah hal yang biasa. Orang yang beragama kuat hanya dipahami sebagai orang yang mendalam ilmu tentang agama dalam tataran knowledge.

Tak dapat dielakkan saat ini kita rasakan juga pengaruh yang mengenaskan akibat dari sekulerisme, bahwa pelajaran agama bukan lagi ditilik sebagai pilar pembentukan karakter bangsa, akan tetapi menjadi sebuah disiplin ilmu yang berbentuk dalam “paket” materi ilmu pengetahuan (knowledge) bukan lagi menjadi skill (akhlak karimah). Tidak heran sekarang ini orang yang mempunyai ilmu agama yang mendalam tidak mampu memberikan suri teladan, bahkan ada yang menjadi “koruptor” sampai mendekam di penjara. Para agamawan tidak lagi mampu menjual ilmu agama sebagai hudan (petunjuk) dalam akhlaknya, mereka hanya memberikan pengetahuan tentang agama. Seakan-akan dunia telah terputus dari pengaruh agama.

Konsep Islam: Pendidikan Holistik

Islam satu-satunya agama di muka bumi yang akan memberikan porsi akal dengan tepat, satu-satunya agama yang menghormati akal. Luar biasa, seluruh agama selain Islam dalam akidah mereka benar-benar telah mematikan akal sehat manusia. Hanya akidah Islam yang membuka keyakinan dengan akal. Ilmu pengetahuan apapun tentunya berawal dari akal. Maka Islam tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan. Akidah Islam dibuka dengan akal. Panca indra dan semua pemberian Allah kepada manusia diaktifkan kemudian diproses dengan akal. Inilah pintu keyakinan umat Islam.

Ayat-ayat berikut memperkuat asumsi di atas. Katakanlah “apakah sama antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu? “sesungguhnya yang dapat menerima pelajaran hanyalah orang-orang yang berakal/berfikir (QS. al-Zumar [39]: 9). Bahkan Al-Qur`an ayat-ayat yang tetap di dalam hati orang-orang yang diberi ilmu. Dan tiada yang menyangkal ayat-ayat Kami melainkan orang-orang yang zalim (QS. al-Ankabût [29]: 49). Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi silih bergantinya malam dan siang adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang mempunyai fikiran/berakal (berilmu). Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring dan memikirkan dengan aktif tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata Ya Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksa neraka (QS. Âli ‘Imrân [3]: 190-191).

Kendatipun Islam memberikan porsi akal, tetapi yang harus diingat, manusia bukan hanya digerakkan oleh akal, manusia juga memiliki komposisi banyak unsur yang tidak lepas satu unsur pun dari perhatian ajaran Islam. Karena itu kewajiban kita membaca ajaran Islam secara proporsional, agar membuahkan pemahaman yang seimbang. Ia tidak hanya berkonsentrasi pada akal saja, tidak pula berkonsentrasi pada hati saja. Konsep keseimbangan (balance concept) adalah salah satu karakteristik ajaran Islam. “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah” (QS. al-Mulk [67]: 3-4).

Tentu kita sepakat, bahwa ajaran agama Islam, satu-satunya ajaran agama yang sangat komprehensif. Artinya ajaran yang mencakup semua aspek kehidupan, memiliki konsep kehidupan secara utuh (integrated concept). Tetapi realitanya kita sendiri yang mencederai ajaran Islam dengan berkiblat kepada konsep sekulerisme. Realitanya adalah seorang pengajar matematika tidak mengenal apa yang diajarkan dalam agama, seorang pengajar fisika tidak mampu memberikan hubungan dengan pelajaran agama. Seorang pengajar agama tidak mengerti hubungannya dengan pelajaran matematika dan seterusnya.

Konsentrasi pada pembangunan intelektualitas (rasionalitas) sudah harus dikoreksi. Kecerdasan otak / IQ ternyata tidak mampu membangun modernitas yang kita impikan, bahkan tolok ukur segala sesuatu dengan pendekatan rasionalitas sudah usang karena ketidakmampuan untuk menjawab segala permasalahan. “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai akal yang dengan akal itu mereka dapat memahaminya (ya`qiluna biha), atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada didalam dada” (QS. al-Hajj [22]: 46).

Inilah konsep pendidikan holistik yang ditawarkan Islam kepada kita, bahwa tidaklah cukup kita melihat segala sesuatu dengan pendekatan materil belaka, pendekatan rasionalitas saja. Karena ada unsur-unsur lain yang juga perlu untuk mendapatkan porsi dengan seimbang.

Rasulullah saw telah mengisyaratkan kecerdasan bukan hanya dalam kecerdasan akal belaka, bahkan sangat didominasi kecerdasan seseorang dengan penguasaan emosinya dan pemahaman-pemahaman spiritual yang lebih kepada hal-hal yang transendental (ukhrowi). Hadis Nabi saw berikut sangat sarat dengan nilai pendidikan : “Orang yang cerdas adalah orang yang menguasai/mengatur emosinya (nafs) dan berbuat sesuatu (bekerja/berkreasi/menciptakan sesuatu) demi kehidupan di akhiratnya yaitu kehidupan setelah kematian” (HR: Muslim).

Seseorang yang mampu menguasai keinginan dan menyetir emosinya ia akan dianggap orang yang cerdas di mata Rasulullah apabila ia juga melakukan apapun yang di dunia ini dengan niatan bahwa pekerjaannya yang menilai adalah Allah yang akan menjadi “tabungan akhiratnya”.

Kecerdasan spiritual dalam hadis ini adalah kebebasan (concept of freedom) dari hal yang mengungkung manusia yang bersifat materialistis duniawi dengan mengembalikan kesadaran akan filosofi kehidupan yang fundamental yaitu hanya kepada Allah kami menyembah (iyyaka na`budu), bahwa hidup untuk mencari rida Allah semata. Dengan kata lain bahwa Sang Pencipta yang akan memberikan sesuatu bagi siapa saja yang mengemban amanat Allah sebagai khalifatullah fil ardhi. Maka orang yang cerdas spiritual adalah orang yang selalu memberikan kontribusinya baik itu pemikiran maupun materiil (skill/akhlak karimah) selama di dunia untuk kehidupan akhiratnya. Semakin orang memiliki SQ yang tinggi semakin tinggi EQ-nya untuk menggapai pengabdian di dunia dengan optimal (ta`mirul ardh = memakmurkan / meningkatkan kualitas hidup manusia di dunnia). Di sinilah ia membutuhkan ilmu pengetahuan untuk berlomba-lomba mengabdi kepada Allah dengan meningkatkan kualitas hidup manusia yang disebut “menuju peradaban manusia yang modern”. SQ adalah salah satu motor yang menggerakkan anak didik kita menjadi seorang penemu/scientist. Ia termotivasi bahwa semakin banyak berbuat di dunia untuk kepentingan manusia semakin besar ganjaran di akhiratnya. Ia tidak hanya berbuat untuk urusan duniawi belaka. Inilah konsep Islam sebagai khalifah di muka bumi. Berbeda dengan motivasi yang terfokus pada kepentingan duniawi. Yang hanya akan membangun karakter manusia individualistis dan tidak bertanggungjawab.

Pembangunan Karakter Muslim.

Mengapa kita menjadi muslim? Tentunya kebanyakan kita menjawab karena orang tua kita muslim. Padahal fenomena yang terjadi adalah akidah yang tertanam tidak lagi karena ilmu pengetahuan, tetapi karena “Islam warisan”. Dari sini tentu lingkungan muslim tidak menjamin bahwa lingkungan itu Islami (sesuai dengan ajaran Islam). Karena yang terbentuk adalah kebiasaan dari orang yang menganut ajaran warisan. Ini harus menjadi “agenda besar para pendidik”, agar kita mendidik anak kita tidak lagi terjebak dari paradigma konservatif. Memahami agama dengan kerangka berfikir yang sangat lama tidak modern (tidak sesuai dengan Al-Qur`an dan Hadis Nabi). Dengan kata lain kita sudah terjelembab ke dalam lumpur “religion understanding by culture”, yaitu menjalani ajaran agama dalam kerangka yang terbentuk oleh budaya yang ada. Seharusnya memahami Islam tidak boleh lagi memakai guidance yang tidak digariskan Al-Qur`an dan Hadis. Realitanya kita memahami ajaran-ajaran agama Islam berangkat dari kebiasaan, budaya, lingkungan yang membuat metode-metode pemahaman kadang justru tidak ada acuannya dalam sumber-sumber Islam. Termasuk pendidikan-pendidikan yang sudah berumur panjang, perlu adanya pembaharuan karena kenyataan output-nya kurang mencapai apa yang kita harapkan seperti pada iftitah di atas. Tragisnya kita tidak berani melakukan observasi-observasi dan terobosan-terobosan untuk pembaharuan pendidikan. Bahkan merasa bahwa yang sudah kita jalani adalah yang terbaik. Padahal realitanya kebanyakan anak didik kita dan termasuk diri kita (selaku pendidik) menjalani ajaran Islam hanya dalam batasan ritual seremonial belaka. Pendekatan-pendekatan kita dalam pendidikan terbelenggu dalam pendekatan formalistis, tidak melakukan kajian-kajian yang lebih substansial. Padahal itu semua dijelaskan dengan sejelas-jelasnya dalam Al-Qur`an dan Hadis Rasulullah. Inilah yang kita akan mencoba menjelaskan dalam sumber ajaran Islam, saya meminjam istilah Grant Wiggin dan Jay Mc Tighe yaitu UbD (understanding by design). Maka kita pun harus mengulang kembali apakah pemahaman Islam selama ini sesuai dengan sumbernya? Dengan istilah lain sudah sesuai dengan “religion understanding by Al-Qur`an and Hadits design”.

Bagaimanakah yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam membangun karakter diri kita dan anak-anak didik kita. Kajian yang kita lakukan harus bermula dari sirah Nabi saw dalam membangun kepribadian para sahabat yaitu dalam khazanah hadis-hadis yang sangat kaya akan nilai-nilai pendidikan. Tidak hanya melakukan “yang sudah ada”, tanpa mencoba melakukan kajian lebih mendalam melalui paradigma Qur`ani. Karena seperti diterangkan tadi bahwa Islam yang terbangun banyak pendekatan formalistik seremonial.

Dari mana kita harus memulai? Apakah yang menjadi skala prioritas dalam pembangunan karakter anak didik kita?. Maka sejatinya kita mencoba membaca berulang-ulang pesan-pesan Allah dalam Al-Qur`an, agar mengerti “big ideas” dari materi-materi pendidikan agama yang sekarang ini kita ajarkan. Inilah yang disebut dengan pendekatan substansial. Apakah esensi dari tiap materi pendidikan kita?.

Marilah kita coba mengupas perumpamaan dalam Kitab Suci Al-Qur`an pada QS. Ibrahim [14]: 24-27. Ini adalah perintah Allah untuk menjadi agenda kajian ilmiah agar dapat menjawab bagaimana menbangun kepribadian muslim yang sejati, yaitu kalimat tauhid yang menyatu dalam diri kita laksana pohon yang kokoh, akarnya menancap perut bumi, cabangnya mencakar langit dan tidak ada henti-hentinya ia berbuah, tak kenal musim (produktif, kreatif, inovatif).

Metode Pengajaran “active learning”.

Metode active learning pada dasarnya bukan berarti anak didik memperbanyak gerakan-gerakan. Intinya adalah sang pendidik tidak memberikan ilmu dengan instant seperti paradigma konservatif kita sekarang, anak didik dijadikan objek pendidik. Yang aktif dalam paradigma konservatif adalah guru. Walhasil tidak menghidupkan lebih banyak lagi daya kreatifitas anak didik. Tidak ada nilai yang mendongkrak diri anak didik untuk menjadi seorang inovatif. Metode konservatif ini pun menyebabkan anak didik hanya “menerima” ilmu pengetahuan yang sudah baku, tidak lagi menjadi ilmu pengetahuan yang membutuhkan improvisasi. Bahkan pada akhirnya sang pendidik dalam menilai anak didik hanya terpaku pada hasil akhir, melupakan bahwa anak didik tetap dalam proses.

Active learning, mengajak para guru untuk menanggalkan paradigma konservatif dengan menjadikan anak subjek dan objek. Mereka (anak didik) menjadi lebih aktif menggapai ilmu pengetahuan untuk menggarap “diri mereka” sendiri. Sang pendidik hanya sebagai fasilitator dan motivator yang merangsang anak didik untuk berfikir aktif mencapai target ilmu yang ditentukan.

Konsep active learning bukanlah metode yang baru, karena inilah konsep pendidikan yang diajarkan Al-Qur`an pada Bapak para Nabi, yaitu Ibrahim as, saat dididik langsung oleh Allah. Metode inilah yang menjadi kerangka pendidikan agar dapat mencetak anak didik sebagai pembaharu, penemu (scientist), karena terbiasa mengaktifkan IQ, EQ, dan SQ dalam melihat segala sesuatu. Kita baca lebih mendalam QS. al-An`âm [6]: 75-79.

“Dan demikian Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, dan supaya dia termasuk orang-orang yang yakin. Maka tatkala malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata “inilah Tuhanku”. Maka tatkala bintang itu hilang dia berkata “Aku tidak suka kepada yang hilang. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata “inilah Tuhanku”. Maka tatkala bulan itu terbenam dia berkata, Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku niscaya aku termasuk kaum yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata “inilah Tuhanku”. Ini yang lebih besar !”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menjadikan langit dan bumi dengan penuh keikhlasan dan aku tidak termasuk orang-orang yang Musyrik.”

Kalimat Kami perlihatkan, mengandung unsur mengaktifkan Nabi Ibrahim, agar ia mencari, melakukan observasi, mengkaji dengan seluruh perangkat yang telah diberikan oleh Allah berupa IQ, EQ dan SQ. Panca indra diaktifkan yang ditransfer pada akal dan hati. Gejolak jiwa dalam hati Nabi Ibrahim adalah proses “active learning”. Pengolahan semua pemberian Allah secara optimal membuahkan hasil yang dahsyat yaitu hasil akhir yang disebut “agar termasuk orang-orang yang yakin”. Inilah pendekatan holistik.

Berbeda dengan kita selama ini yang terfokus pada hasil akhir anak didik. Tidak lagi memperhatikan proses perkembangan anak didik. Kalaulah dalam ilmu matematika, bagi yang tidak memahami ilmu matematika, mereka hanya tertumpu pada hasil akhir, bukan proses mendapatkan hasil akhir (proses pembentukan pola fikir efektif). Demikian pula dalam pendidikan ritual keagamaan. Tertuju pada hasil akhir (ritual seremonial/ibadah mahdhah), tidak lagi mengkaji ulang mengapa ia dapat melakukan ibadah mahdhah itu. Contohnya shalat, anak didik kita sudah dianggap baik, bila sudah shalat, tidak lagi kita memikirkan dan mendiagnosa bagaimana prosesnya sampai ia shalat. Karena yang terpenting adalah proses perkembangan anak didik yang menjadi motivator segala tingkah laku dan perbuatannya. Acapkali kita memakai metode mengajar sebuah materi, sementara kita sendiri melupakan “enduring understanding”nya.

Active learning ini dapat dijelaskan lebih lanjut konsep-konsep Islam dalam membangun pola pikir Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Justru realita yang ada mayoritas kita menganut agama karena “keturunan”, maka hasilnya tidak membentuk diri kita aktif. Tetapi hanya mengikuti “materi yang instant”. Sementara metode pembangunan karakter dalam Islam, wajib melalui metode active learning dalam konteks Tauhid Rububiyah. Dan inilah yang banyak dibicarakan dalam ayat-ayat Al-Qur`an.

Tauhid Rububiyah membaca alam semesta dengan berfikir aktif, mengolah seluruh yang diberikan Allah kepada manusia untuk membaca alam. Setelah itu ia hubungkan dengan konsep yang terpadu (integrated concept) bahwa segala sesuatu dari yang satu dan akan kembali kepada yang satu, Yang Mencipta, Yang Mengatur, Yang Memiliki. Proses ini tidak hanya mengaktifkan IQ belaka akan tetapi pendekatan holistik yaitu mengaktifkan IQ, EQ dan juga SQ. Tidak mungkin terjadi Tauhid Rububiyah kecuali hanya dengan metode active learning yang diajarkan Allah kepada Nabi Ibrahim as. Step inilah yang hilang dalam pembangunan karakter bangsa kita akibat dari “tidak ingin membaca”. Sementara umat Nabi Muhammad saw adalah umat “yang membaca” yang diartikulasi dari ayat pertama kali turun ‘Iqra` = bacalah’.

Tauhid Uluhiyah adalah hasil akhir yang setelah diproses melalui active learning tidak ada satu pun yang disembah, dikultuskan, diagungkan, dibesarkan kecuali Allah. Inilah proses freedom, karena tauhid mengajarkan kebebasan dari bentuk-bentuk pengungkungan dan penjajahan. Inilah yang disebut dengan pendekatan hati. Selanjutnya hasil dari Tauhid Uluhiyah perlu penjabaran atau ekspresi dari hasil akhir (rukun iman) yaitu rukun islam (Tauhid Uluhiyah). Dalam hal ini banyak dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah saw. Kajian pendidikan yang luput dari design-design Al-Qur`an dan Hadis akan menjadikan kita terjebak pola konservatif, kultur dan kebiasaan yang tidak bisa ditawar dan diubah. Pendidikan yang kita lakukan tidak lagi mengacu pada metodologi Ilahiyah, sebuah metode modern yang saat ini justru tanpa disadari dipraktekkan di negara-negara maju.

Penutup

Dunia pendidikan, dunia yang sangat luas pembahasannya. Makalah ini hanya sekilas kajian kritis terhadap paradigma konservatif yang tidak optimal dalam mencetak generasi bangsa yang terbaik. Bagaimana kita membangun diri kita dan anak didik kita dengan pendekatan-pendekatan holistik. Kita mencoba untuk membaca ulang, apa yang telah kita lakukan. Membaca ulang bagaimana kita memahami Islam. Bentuk apa dan bagaimana seharusnya yang kita kerjakan. Mencoba men-design ulang pemahaman kita dengan Al-Qur`an dan Hadis. Pemahaman yang kita bentuk harus jelas, bukan sekedar memberikan materi pendidikan, tanpa ada design yang tetap. Betapa banyak materi pendidikan kehilangan substansinya, karena kita tidak lagi men-design konsep sebelum mencetak anak didik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: