Oleh: Ariya Ilham | 9 Agustus 2009

Self Esteem Wanita Muslimah

Minder, semua orang tahu maknanya, adalah sikap yang manusiawi. Semua orang memiliki sikap dan perasaan ini dengan level yang berbeda. Minder adalah manusiawi, akan tetapi menjadi tidak manusiawi lagi ketika kita tidak berusaha untuk menghilangkan sikap dan perasaan minder ini tahap demi tahap.

Sikap dan rasa minder timbul pada hal dan bidang tertentu yang kita merasa tidak mampu atau merasa lemah dari ukuran standar umum atau ideal.

Ada dua macam bentuk minder: fisik dan non-fisik. Minder fisik berkaitan dengan kekurangan yang bersifat fisik. Sedang minder non-fisik berkaitan dengan sikap mental dan pola pikir kita dalam menilai diri sendiri, dalam menilai kemampuan diri. Pada sosok pribadi yang memiliki sifat minder non-fisik yang ekstrim, biasanya dia akan merasa tidak memiliki kemampuan sama sekali, merasa orang lain jauh lebih mampu darinya. Tipe semacam ini tidak akan bisa bersikap independen. Ia juga akan sangat bergantung pada orang lain di sekitarnya. Ketergantungan pada orang lain itu akan semakin mengecil bersamaan dengan semakin kecilnya keminderan kita serta meningkatnya kepercayaan pada kemampuan diri sendiri.

Minder adalah tipikal orang yang bermental lemah. Mental yang lemah akan merasa selalu tidak aman. Selalu gelisah dan kuatir. Karena kerja otak sudah dipenuhi dengan rasa kuatir, takut dan gelisah tanpa sebab atau disebabkan oleh hal-hal kecil, maka kerja otakpun menjadi lemah dan tidak dapat berfungsi untuk memikirkan hal-hal besar yang bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.

Oleh karena itu, minder harus sebisa mungkin dihindari dan dicari jalan keluarnya dalam rangka mengubah pribadi kita menuju kepribadian yang self-esteem (baca: self estim). Suatu tipe kepribadian yang dimiliki Rasulullah dan para pemimpin besar lainnya (QS Yunus 10:62).

Self Esteem

Dapatkah seorang muslimah yang berkepribadian minder (inferiority complex) yang parah dapat menjadi profil yang penuh self esteem? Tentu bisa.

Pertama, seseorang tidak dapat disebut sebagai muslim dan muslimah yang baik kalau tidak memiliki kepercayaan diri tinggi. Sebab Islam memerintahkan kita untuk hanya bergantung kepada Allah, tidak kepada sesama makhluk (QS Annisa’ 4:36). Perintah ini kalau kita amalkan dengan sepenuh hati membuat seorang muslimah tidak akan lagi memiliki rasa takut dan rasa kecil hati kepada sesama manusia.

Kedua, Islam juga memerintahkan kita untuk selalu bekerja keras (QS Al Anfal 8:60; Al Jum’ah 62:10; Al Haj 22:78) dalam mereformasi diri dan berevolusi ke arah yang lebih baik di berbagai bidang kehidupan (QS Ar Ra’d 13:11).

Namun demikian, Islam juga mengakui perlunya proses dan tahapan-tahapan dalam mencapai suatu tujuan. Dalam realitas, tidak ada hasil tanpa melalui perjuangan dan proses panjang yang berliku (Al Balad 90:10-13). Termasuk di antara proses itu adalah dengan banyak membaca terutama profil tokoh-tokoh besar khususnya sejarah Nabi (QS Al Ahzab 33:21); dan “mengaji” realitas keseharian orang-orang di sekeliling kita untuk dipetik hikmahnya (QS Ali Imron 3:137).

Suatu tujuan baik akan tercapai mungkin dalam waktu singkat, mungkin lama, tapi selagi kita terus mencoba dan berusaha Allah akan memberi jalan menuju sukses yang diridhai (Al Ankabut 29:65).


Tanggapan

  1. Bagus sekali artikelnya. Mencerahkan.
    Salam hormat.

    • Ok terima kasih…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: