Oleh: Ariya Ilham | 14 Agustus 2009

Puasa Ramadhan dan Keikhlasan Kita

Ibadah puasa memang merupakan ibadah yang sangat spesial. Bukan hanya ritualnya atau pemberian ganjarannya, perintah puasa tidak diserukan kepada semua umat manusia, tetapi hanya kepada orang beriman saja. Karena itu Allah SWT menyerukan, “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Kalau kita tidak menerima perintah puasa dengan keimanan, maka sulit bagi kita untuk menjalankannya. Orang yang tidak beriman tentu akan melihat puasa sebagai perintah yang mengada-ada.

Tapi bagi orang-orang beriman dan orang-orang yang mencermati ibadah puasa dengan seksama, ternyata puasa bukan hanya sebuah ritual ibadah biasa bagi umat Islam. Karena di dalam ibadah puasa terdapat banyak sekali hikmah dan manfaat.

Salah satu di antara hikmah yang tersembunyi dari ibadah puasa adalah mendidik kita, orang-orang beriman, untuk bisa merasakan penderitaan orang-orang yang tidak mampu, orang yang tidak makan dari pagi sampai sore, bahkan sampai berhari-hari. Hikmah itu supaya kita bisa berbagi dengan mereka yang sulit mencari makan, sulit mencari nafkah.

Puasa adalah sebuah cara Allah SWT untuk mendidik kita supaya setelah merasakan penderitaan orang lain, kita mampu mengaplikasikan puasa itu dalam kesediaan untuk membantu mereka-mereka yang tidak berpunya. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Maa’uun, “Tahukah kamu, orang yang mendustakan agama itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin”. Jadi, jika hati kita tidak tergerak untuk membantu sesama, maka kita termasuk pendusta agama.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa surga merindukan untuk bisa dimasuki oleh empat kelompok manusia. Pertama, orang yang mampu mengendalikan lidahnya. Artinya, orang yang tidak serakah dan tidak menjadikan lidahnya sumber fitnah. Kedua, orang yang mampu membaca dan sekaligus mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam kehidupan.

Kita tahu bahwa Al-Qur’an itu intinya Bismillahirrohman nirrohim (dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Ketiga, orang yang punya kemampuan menebarkan kasih sayang kepada sesama. Kemampuan membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Karena Allah menyatakan, “… dan barang siapa yang menghidupi satu manusia sama dengan menghidupi manusia sealam jagad raya ini.” Keempat, adalah orang-orang yang memberi makan kepada orang-orang yang lapar.

Karena itu, ketika suatu saat di Madinah ada musibah angin Sor-sor, angin besar yang kencangnya lebih dahsyat dari angin puting beliung, yang membuat rumah-rumah terangkat dan penerangan seluruh kota padam sehingga Madinah menjadi gelap gulita, para sahabat berlari kepada Nabi. Sebagai seorang pemimpin, Nabi menerima mereka dengan tenang dan berkata, “Memang Allah menjadikan kekuatan dari angin. Allah juga menjadikan kekuatan dari air, begitu dahsyatnya. Allah juga menjadikan kekuatan dari besi dan juga makhluk-makhluk yang lain. Tetapi ada satu kekuatan yang sangat luar biasa. Semua kekuatan yang lain itu akan tenggelam, apabila satu ini terjadi.”

Lalu sahabat bertanya, kekuatan apakah gerangan itu ya Rasulallah? Nabi menjawab, “…kekuatan dari keikhlasan. Yakni, ketika umatku memberi dengan tangan kanan tanpa diketahui tangan kirinya. Dengan kekuatan itu, maka semua musibah akan hilang.”

Beberapa tahun belakangan ini bangsa kita sedang dirundung duka oleh datangnya berbagai macam musibah. Mulai dari tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, kecelakaan pesawat, kecelakaan kereta, bus dan lain-lain. Dan, di awal Ramadhan kemarin, saudara kita di Bengkulu dan bagian lain Sumatera baru saja terkena musibah gempa bumi berkekuatan cukup tinggi, sehingga rumah mereka hancur dan harta benda lainnya hilang.

Sangat ironis memang di mana mereka seharusnya menyambut gembira datangnya bulan suci Ramadhan, tiba-tiba datang bencana yang memorak-porandakan harta benda dan rencana serta niat mereka menjalankan ibadah puasa.

Namun, sebagai orang beriman tentunya kita tidak memandang musibah ini dengan kacamata dan perasaaan insani semata. Kita harus menerima musibah ini dengan kekuatan yang Nabi gambarkan tadi: ikhlas. Karena hikmah lain dari ibadah puasa itu adalah mencegah, menahan diri. Kalau kita tertimpa musibah, kita harus siap menerima semua ini dengan ikhlas dan lapang dada.

Hal lain yang harus kita lakukan adalah introspeksi. Selama sekian tahun, terlalu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Barangkali kita lupa, sehingga kita tidak pernah bersyukur kepada-Nya. Musibah ini sebagai ujian atau tegoran dari Allah untuk mendidik kita, karena sesungguhnya Allah mencintai kita.

Karena itu, jangan menganggap musibah ini sebagai azab atau hukuman, tapi anggaplah ini sebagai cara Tuhan mencintai kita. Kalau kita lulus dari ujian ini, insya-Allah, Allah SWT akan mengangkat derajat kita ke depan. Firman Allah menyatakan, maka sesungguhnya dalam bencana dengan kesulitan itu ada kemudahan.

Kita tahu musibah di negeri ini tidak terjadi di bulan Ramadhan saja. Kalau belakangan terjadi di bulan Ramadhan ini hanya kebetulan saja. Itu cara Allah SWT menyayangi umat manusia. Seperti kita menyayangi anak kita, kalau anak kita salah, kita jewer.

Nah, kalau kita kena musibah, mungkin Allah sedang menjewer kita. Hikmahnya pasti ada. Ini barangkali cara Allah mendidik bangsa Indonesia agar kita tidak putus asa. Jangalah berputus asa dari nikmat-nikmat Allah. Karena tidak ada orang putus asa dari nikmat Allah, kecuali orang kafir.

Jadi, esensi yang paling penting dari puasa orang yang terkena musibah adalah selalu ber-husnuzon kepada Allah. Kalau kita ber-husnuzon kepada Allah, pasti Allah akan baik kepada kita. Sebaliknya, kalau kita berburuk sangka kepada Allah, maka Allah akan berbuat hal yang sama dengan sangkaan kita.


Tanggapan

  1. nice post gan 😉

    • Ok thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: