Oleh: Ariya Ilham | 18 Agustus 2009

Refleksi Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2009

Menjaga Makna Substantif Proklamasi

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, 64 tahun lalu, selain memiliki makna tentang komitmen seluruh unsur bangsa untuk menggapai dan mempertahankan kemerdekaan bangsa, mengandung arti adanya komunikasi kritis antarelemen bangsa. Mereka menyadari bahwa masing-masing elemen memiliki latar belakang dan identitas sosial, budaya, bahkan agama yang berbeda.

Namun, demi kemerdekaan, masing-masing rela meletakkan semua itu dalam satu bingkai, yaitu keindonesian, tanpa harus membuang jati diri masing-masing. Eka dalam bineka itu menjadikan mereka memiliki solidaritas kukuh yang mengantarkan mereka kepada sikap mengerti satu dengan yang lain. Dalam hal itu, kesepakatan mereka untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara menjadi bukti kukuh yang sulit terbantahkan.

Kritis-Transformatif

Pancasila lahir dan berkembang dari diskusi kritis yang cukup panjang di kalangan pemimpin bangsa. Sejak mereka bersidang dalam Majelis Konstituante pada 29 Mei 1945 hingga lahirnya Piagam Jakarta 22 Juni, persoalan dasar filsafat negara menjadi isu sangat krusial. Sejarah mencatat, sebagian mengusulkan Islam sebagai dasar negara dan sebagian lain menolak. Dalam perdebatan itu, satu hal yang sangat menarik untuk terus diingat (dan perlu diapresiasi serta dikembangkan) adalah ketegasan dan keterbukaan mereka dalam mengemukakan argumentasi masing-masing serta kesiapan mereka untuk menerima pendapat yang berbeda.

The founding fathers/mothers memiliki dasar logika, bahkan teologis, yang kuat dalam mempertahankan pandangan mereka, baik yang menginginkan dasar negara Islam maupun yang menghendaki dasar negara Pancasila. Menariknya, mereka tidak terpaku pada argumentasi logis atau teologis semata. Bagi mereka, persoalan lebih urgen dan lebih bertanggung jawab adalah upaya mengontekstualisasikannya dengan realitas konkret kehidupan.

Karena itu, kendati perumusan konstitusi dengan Piagam Jakarta sebagai preambulnya diterima secara aklamasi pada 16 Juli 1945, pemimpin bangsa dengan kearifannya mampu melihat adanya persoalan yang belum tuntas diselesaikan. Kalangan pemuka muslim memahami, klausul sila pertama yang berbunyi ”…dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” tetap menjadi ganjalan bagi kelompok minoritas. Karena itu, pada 18 Agustus tahun itu, elite anak bangsa dari kelompok muslim menyetujui penghapusan anak kalimat tersebut. Tapi, kata Ketuhanan dalam sila pertama ditambah dengan atribut Yang Maha Esa.

Kondisi dialogis dan empatik dapat tercipta karena komunikasi yang berkembang -meminjam konsep Habermas (Sindhunata Basis, 11-12, 2004)- adalah komunikasi kritis dan transformatif yang meletakkan intersubjektivitas sebagai realitas yang mendahului otonomi subjek. Dalam bingkai itu, politik tidak dilihat lagi sebagai adu kekuatan, tapi sebagai pertukaran komunikasi dengan tujuan pencapaian kesepakatan dan kepentingan bersama melalui jalan rasional, burhani, bahkan teologis.

Komunikasi model itu akhirnya membuahkan kesepakatan untuk menjadikan Pancasila sebagaimana bentuknya sekarang sebagai dasar negara. Melalui proses panjang itu, Pancasila menampakkan diri sebagai bentuk kesalingpahaman seluruh elemen bangsa dalam menyikapi kelompok lain dan realitas yang ada di hadapan mereka. Pada saat yang sama, mutual-understanding itu melahirkan solidaritas kukuh sehingga mereka -terlepas dari segala perbedaan yang ada- bisa bahu-membahu dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang baru digapai.

Pembumian Makna

Secara logika, Indonesia hadir menjadi kenyataan karena the founding fathers/mothers bersatu padu untuk memperta­hankan kemerdekaan. Dan, di pihak lain, mereka menghargai perbedaan yang ada. Seandainya para pendiri bangsa bersikukuh dengan pendapat masing-masing, mungkin proklamasi akan tertunda atau masing-masing elemen bertikai terus tanpa ujungnya. Syukur, mereka memiliki tenggang rasa yang tinggi dan solidaritas sosial yang kukuh.

Sikap itu jelas tidak muncul secara tiba-tiba, tapi tumbuh dan berkembang dari nilai-nilai yang diyakini dan menjadi pijakan bersama, misalnya multikulturalisme. Nilai-nilai itu yang menjadi anutan the founding fathers yang berkembang kuat di balik proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dalam kondisi bangsa yang saat ini karut-marut, nilai-nilai itu sangat urgen untuk diapresiasi, dilabuhkan, dan dikontekstualisasikan ke dalam kehidupan konkret. Untuk itu, seluruh anak bangsa dituntut untuk memahami sejarah, khususnya proklamasi kemerdekaan RI, semangat, dan makna yang melatarbelakanginya, serta segala upaya dan tindakan untuk mempertahankan. Mereka harus sadar bahwa multikulturalisme yang dianut para pendiri bangsa bukan sekadar merujuk kepada kepentingan bernuansa pragmatis. Namun, yang paling prinsip, mereka telah dikondisikan oleh nilai-nilai teologis agama masing-masing. Sebagai contoh, para elite bangsa yang muslim meyakini, Islam sebagai rahmatan lil alamin sebagai ajaran substantif, mutlak dipraktikkan dalam kehidupan.

Senada dengan itu, pemerintah dengan segala unsur dan perangkatnya niscaya dari saat ke saat harus memperkukuh keberadaan NKRI melalui strategi sistematis yang ditindaklanjuti dengan aksi-aksi konkret yang holistis. Pemerintah dituntut untuk tidak diam melihat gejala yang jelas mengarah kepada pandangan dan aksi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Saat ini pemerintah mutlak mengambil langkah-langkah dan tindakan tegas, tapi tidak kaku, untuk menyelesaikannya. Hal itu harus dilakukan dengan mengedepankan transparansi dan penuh tanggung jawab sehingga salah langkah dan bias tindakan dapat dihindari.

Melalui pembumian multikulturalisme itu dan aksi pemerintah yang konkret untuk mempertahankan NKRI, segala unsur bangsa bersatu padu menyelesaikan persoalan bangsa dan menghilangkan segala munkarat dengan penuh kebijakan. Pada menit yang sama, masing-masing harus membangun negara dalam berbagai aspeknya menuju baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: