Oleh: Ariya Ilham | 22 Agustus 2009

Tommy Soeharto dan Golkar

Peluang Tommy Soeharto memenangi kursi Golkar tak bisa dibilang kecil. Dia mempunyai segala modal untuk memenangi pertarungan dalam dunia politik yang penuh intrik itu. Dia punya ”banyak gizi”, istilah untuk menyebut berkantong tebal, yang menjadi modal utama dalam pertarungan di dunia politik. Tapi, modal terbesar Tommy adalah memiliki trah politik. Dia merupakan anak Soeharto, penguasa yang tak hanya menguasai Indonesia selama 32 tahun, namun juga menggenggam Golkar. Kekuasaan Soeharto dalam partai berlambang beringin itu bisa dibilang mutlak. Sebagai ketua dewan pembina (jabatan itu sudah dihapus), Soeharto menjadi pengambil keputusan tertinggi. Apa yang diinginkan Cendana pasti dilakukan Golkar saat itu. Kekuasaan yang begitu lama dan absolut tersebut sedikit banyak tentu mewarisi jaringan dan akar yang kuat. Sudah banyak trah politik dunia yang langsung mampu berkiprah di panggung politik dengan jalan pintas. Misalnya, mantan PM Pakistan Benazir Ali Bhuto, putri Zulfikar Ali Bhuto. Dengan modal nama besar keluarganya, dia mampu meraih simpati rakyat. Trah keluarga Ghandi di India juga malang melintang karena nama besar. Tak perlu jauh-jauh, Megawati membesarkan PDIP karena peran nama besar keluarga Soekarno. Mungkinkah Tommy terganjal aturan internal Golkar? Misalnya, menjadi pengurus harian selama satu periode? Soal itu sebenarnya bukan persoalan berat, bergantung sejauh mana manuver dan pengaruh pangeran Cendana itu. Sebab, aturan AD/ART tersebut bisa saja dirombak. Bukankah arena pemilihan ketua umum itu adalah munas (musyawarah nasional) yang merupakan ajang tertinggi forum partai tersebut? Karena itu, apa saja bisa terjadi, termasuk perubahan AD/ART dan terpilihnya nama yang mengejutkan. Dengan plus-minus track record, seperti berasal dari keluarga Cendana, pebisnis yang sudah kenyang pengalaman, pernah mengenyam Nusakambangan, maupun kemampuan memiliki banyak jaringan, apakah Tommy bisa membesarkan Golkar? Atau, mungkin Golkar akan terpuruk? Golkar stagnan? Jawaban itu berada di tangan Golkar. Kehadiran Tommy itu membuat bursa ketua umum Golkar semakin marak. Sebab, calon yang sudah muncul juga punya nama besar. Yakni, Aburizal Bakrie (bos Grup Bakrie), Surya Paloh (bos Media Indonesia), dan Yuddy Chrisnandi (politikus yang dekat dengan Jusuf Kalla). Perkembangan internal Golkar tersebut menjadi perhatian seluruh rakyat Indonesia. Bangsa ini sangat berkepentingan karena posisi Golkar yang menguasai 106 kursi (perhitungan sementara KPU) di parlemen menjadi faktor yang menentukan arah politik Indonesia. Tentu, kita semua (bangsa Indonesia) tak ingin dinamika Golkar membawa bangsa ini ke pendulum yang negatif. Tidak bisa kita bayangkan seumpama kemunculan sosok tertentu dalam bursa pencalonan Golkar menimbulkan konflik berkepanjangan di internal partai itu. Apalagi bila itu menjadi konflik fisik. Sesuatu yang tidak baik menjadi tuntunan atau tontonan dalam pendidikan politik. Karena itu, kepada semua pihak yang maju sebagai calon ketua umum Golkar, kami berharap mereka berkompetisi secara fair. Saling menghargai dalam kesetaraan. Siap menerima kekalahan. Ciptakan apa yang terbaik bagi Golkar menjadi yang terbaik bagi bangsa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: