Oleh: Ariya Ilham | 23 Agustus 2009

Menangkap Spirit Ramadhan

Mulai kemarin malam, kita sudah memasuki bulan puasa/Ramadhan 1430 H. Berbeda dengan momen bulan puasa tahun – tahun sebelumnya, dalam sebelas bulan menuju Bulan Suci tahun ini, kita mengalami berbagai peristiwa yang sebagian membanggakan dan sebagian lain (yang lebih besar) meresahkan jasmani dan rohani. Mulai krisis ekonomi global, pemilu legislatif dan pemilu presiden, serta yang terbaru adalah pengeboman dua hotel mewah di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.

Hiruk – pikuknya urusan duniawi itu membuat kehadiran Ramadhan tahun ini seakan menjadi oase yang mendatangkan kesejukan. Jiwa yang letih ingin kita sepuh kembali di bulan penuh ampunan ini.

Sayang, di tengah semangat tinggi untuk menangkap spirit ibadah puasa dengan tantangan yang spesial itu, kita masih waswas akan menjumpai bulan Ramadhan seperti tahun – tahun sebelumnya, yakni terjebak dalam produk budaya massa yang hanyut dalam arus kuat pusaran pasar.

Kegiatan kajian agama meningkat begitu drastis. Di satu sisi, syiar Islam semakin bergairah; sedangkan di sisi lain, banyak yang terseret pada kegiatan yang mengutamakan gebyar lahiriah. Agama tidak membentuk pemahaman ibadah yang mendalam, tetapi justru tidak berbekas lantaran sifatnya yang serbacepat, masif, dan instan.

Indikasi ke arah sana sudah mulai terlihat akhir-akhir ini. Bisnis hiburan banting setir; dari yang memperturutkan hawa nafsu, beralih pada tayangan religius. Para selebriti juga mulai mengubah penampilan mereka dengan memakai busana muslim/muslimah meski sesudah Ramadhan cepat – cepat kembali ke wujud aslinya.

Sudah saatnya pemahaman kita terhadap ibadah puasa tidak hanya berbentuk formalitas belaka. Puasa bukan sekadar rutinitas menjalankan salat tarawih, makan sahur, menahan lapar dan dahaga, kemudian berbuka saat Maghrib tiba. Ibadah puasa semestinya juga menjadi spirit bagi kita untuk mengatasi problem yang mendera, seperti kemiskinan, korupsi, dan yang mulai membuat kita panas dingin akhir-akhir ini: aksi terorisme.

Kekhusyukan ibadah puasa semestinya menjiwai langkah dan gerak kita di setiap lini kehidupan. Dengan kata lain, dengan kesalehan puasa yang membeningkan jiwa, kita dapat melihat dengan gamblang dan bersikap tegas membedakan mana yang baik dan jahat, yang benar dan salah. Sebab, dalam keadaan haus dan lapar, kita dapat merasakan penderitaan orang yang tidak beruntung.

Dampak lebih lanjut, kita bisa melihat agama bukan hanya sebagai sederet rumus doktriner, namun nilai – nilai spiritualitas yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap menolak KKN, misalnya. Sesudah puasa, seharusnya sikap itu tidak lagi hanya didasari pemahaman bahwa perbuatan itu melanggar nilai – nilai ajaran agama. Juga harus ditimbulkan kesadaran bahwa KKN adalah tindakan yang menyengsarakan banyak orang. Melenyapkan nyawa sesama dengan aksi teror kita tentang keras bukan hanya karena pembunuhan keji melanggar hukum Tuhan, tetapi juga bentuk terorisme bertopeng agama yang harus dilenyapkan.

Puasa memang bakal selalu datang setiap tahun. Tetapi, kita harus selalu memperbarui pelajaran dan manfaat darinya. Jika tidak, hanya lapar dan dahaga yang kita dapat. Selamat menunaikan ibadah puasa.


Tanggapan

  1. nice post 😉

    met puasa

    ==========================================

    Blog Jelek sumpah, jangan diklik!

    • Trima kasih comment ny mas…
      Smoga az bs mjd pemacu semangat untuk mengembangkan blog ini lebih baik lg…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: