Oleh: Ariya Ilham | 24 Agustus 2009

Inflasi dan Ramadan Ekstravaganza

Tampaknya, kita akan menyaksikan lagi anomali Ramadan. Anomali itu terkait dengan perkiraan inflasi yang akan melonjak drastis pada Agustus dan September seiring masuknya bulan Ramadan dan Lebaran.

Ramadan merupakan bulan saat mayoritas muslim menunaikan ibadah puasa yang bermakna pengendalian diri, termasuk dari sisi konsumsi. Namun, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, ternyata pada Ramadan kali ini kita masih menyaksikan kenaikan konsumsi yang tinggi. Akibatnya, Ramadan selalu berarti kenaikan inflasi.

Walau makin menurun, inflasi masih menjadi ancaman serius bagi perekonomian kita. Inflasi tahunan sampai Juli 2009 hanya 2,71 persen. Sementara itu, Januari sampai Juli 2009 hanya 0,66 persen. Pada Juli 2009 terjadi inflasi 0,45 persen dengan sumber utama berasal dari kenaikan indeks harga pada kelompok bahan makanan 1,14 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,29 persen. Itu menunjukkan bahwa makanan telah menjadi sumber inflasi yang paling signifikan.

Sampai Juli, kontribusi inflasi bahan makanan secara total 0,8 persen, sedangkan untuk makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mencapai 3,61 persen. Sandang hanya naik 2,29 persen dan kesehatan 2,62 persen. Hanya sektor transpor, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami deflasi sebesar 4,17 persen. Anatomi inflasi 2008 adalah bahan makanan mengalami inflasi tertinggi, yaitu 16,35 persen. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mencapai 12,53 persen.

Perkembangan inflasi dari sektor bahan makanan dan makanan jadi, minuman, rokok, serta tembakau berimplikasi serius bagi golongan masyarakat miskin. Mengikuti hipotesis Engel, kesejahteraan keluarga miskin merosot ketika harga makanan naik karena porsi pendapatan yang harus digunakan untuk membayar pengeluaran makanan makin besar.

Ramadan Ekstravaganza

Diakui atau tidak, Ramadan adalah bulan ekstravaganza alias konsumtif. Pola pengeluaran keluarga muslim berubah drastis, terutama untuk belanja makanan. Sepertinya kita terjebak pada memperbesar konsumsi daripada menaikkan volume ibadah untuk menggembleng diri.

Maka, kenaikan konsumsi saat Ramadan selalu inheren dengan kenaikan inflasi. Inflasi Indonesia tertinggi selalu terjadi saat Ramadan. Pertanyaan kita adalah apakah inflasi yang tinggi menandakan sinyal positif atau sinyal negatif?

Sebenarnya dari sisi positif, kenaikan inflasi selama Ramadan dapat dipadang sebagai adanya kenaikan daya beli masyarakat. Itu tentu merupakan akibat adanya THR dan bonus prestasi kerja yang selalu dikeluarkan pada Ramadan. Artinya, masyarakat memiliki kemampuan untuk membeli lebih banyak. Itu positif dari sisi ekonomi.

Dari sisi negatifnya, kenaikan harga barang, terutama yang terkait dengan makanan, menunjukkan adanya kelemahan manajemen stok pangan kita. Semua pejabat ekonomi kita selalu menyatakan persediaan tidak ada masalah, namun kenaikan harga yang begitu tinggi menunjukkan adanya sesuatu yang salah.

Kesalahan itu, tampaknya, terjadi karena rantai suplai barang (supply chain) kita dikuasai trader besar yang mampu mengendalikan harga dari hulu sampai hilir. Kalau itu terjadi, sebenarnya Ramadan bisa dilihat sebagai siklus panen raya tahunan mereka yang terlibat dalam rantai distribusi sembako dan produk makanan lain.

Kenaikan harga sembako di pasar sudah tidak wajar. Harga gula naik sampai Rp 700 per kilogram. Daging ayam naik sampai Rp 2.000 per kilogram. Daging sapi naik Rp 7.000 dan minyak goreng naik sampai Rp 500 per kilogram. Tepung terigu demikian juga. Apakah kenaikan itu wajar dalam dinamika sistem pasar? Tampaknya, pemerintah perlu mencari solusi yang komprehensif, bukan sekadar pencitraan dengan pasar murah bersubsidi.

Pasar murah yang menjual sembako bersubsidi, yang dibuka para menteri dan direktur Bulog, mungkin masih diperlukan. Tetapi, masak sejak zaman Orba polanya sama, yaitu sekadar menyirami lapangan kecil di tengah kekeringan luas.

Yang ditakutkan dari kenaikan harga di awal puasa ini adalah terjadinya sinyal salah di masyarakat. Artinya, jika kenaikan harga dianggap sebagai sinyal kekurangan pasokan, panic buying akan terjadi. Terlebih, momen puasa dan Lebaran dipersepsi masyarakat sebagai masa ”lebar”, yaitu toleran dan pasrah sehingga harga berapa pun akan dibeli.

Kalaupun harga daging ayam menjadi Rp 50 ribu per kilogram, orang tetap membelinya demi memasak opor ayam di hari Lebaran. Sebab, opor ayam sudah menjadi makanan ”resmi” Lebaran. Kalau itu terjadi, kenaikan harga tidak akan berhenti dan korban paling parah adalah mereka dalam kategori miskin.

Maka, paradigma Ramadan dan Lebaran harus berarti pesta makan dan minum mewah, baju baru Lebaran, dan suguhan istimewa di hari raya harus diubah. Muslim harus menyadari yang terbaik adalah yang ”sederhana saja” dan tidak berlebihan.

Kalau melihat fenomena kenaikan harga yang terjadi saat ini, kita melihat potret Indonesia yang parsial dan egois di antara komponen bangsa. Parsial artinya, masalah yang sifatnya struktural selalu diselesaikan secara sempit tanpa pernah berusaha menyelesaikan sumber masalahnya. Egois artinya, ternyata tidak pernah ada langkah konkret untuk mengatur pelaku ekonomi secara komprehensif agar semuanya bertindak dan melangkah guna menciptakan ekonomi nasional yang kuat. Ibaratnya, semua berusaha menciptakan hujan (kemakmuran) untuk kelompoknya sendiri dengan memainkan kewenangannya masing-masing.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: