Oleh: Ariya Ilham | 2 September 2009

Menunggu Opsi Kabinet SBY

Kemenangan di atas 60 persen dalam pilpres memperlihatkan betapa SBY terlalu mudah mengalahkan para pesaingnya. Kini tugas SBY adalah membentuk kabinet. Pertanyaannya, mudahkah itu dilakukan SBY? Tampaknya tidak. SBY harus memilih opsi kabinet yang berisi orang-orang profesional atau opsi kabinet akomodatif yang mewakili kepentingan koalisi partai politik. Dari aspirasi yang kita dengar, rakyat menghendaki SBY bersama Boediono membentuk kabinet yang diisi para profesional dan mereka yang tidak pernah terlibat dalam kasus hukum. Mereka yang berasal dari partai politik dinilai tidak tepat karena mereka bukan orang profesional. Sementara kalangan partai pendukung menghendaki SBY mau akomodatif terhadap mereka. Toh mereka sudah berkeringat untuk kemenangan SBY. Pertanyaan selanjutnya, sebagai presiden terpilih yang memiliki legitimasi penuh dari rakyat, beranikah SBY menentukan orang-orang yang akan duduk di kabinet dengan mengacu pada profesionalitas dan bukan sekadar politik dagang sapi?

Kabinet Profesional

Menjadi menteri adalah menjadi pembantu presiden, seperti diatur dalam ketentuan pasal 17 UUD 1945. Itulah pembantu yang superbodi karena berwenang dan berkuasa mengambil kebijakan publik. Karena memiliki wewenang dan kekuasaan untuk mengambil kebijakan publik inilah, sebagai pembantu, dia harus menyandang etika dan tanggung jawab publik. Menjadi menteri jelaslah orang pilihan. Karena itu, SBY harus memilih menteri yang cakap secara konseptual dan fungsional, tetapi juga sosok yang memiliki integritas kuat untuk mengabdi kepada kepentingan publik. Jangan memilih menteri yang mentalitasnya hanya berorientasi ke atas, menghamba kepada kekuasaan. SBY memiliki kebebasan mutlak untuk memilih pembantu-pembantunya dari kalangan profesional guna membentuk zaken kabinet atau kabinet ahli pada pemerintahan periode keduanya seperti yang dikehendaki rakyat yang telah memilihnya. Zaken kabinet itu adalah kabinet ahli dalam bidangnya masing-masing, terdiri atas kalangan profesional. Itulah Kabinet Profesional. Apalagi, hal itu diperkuat oleh survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang digelar 18-28 Juli 2009, yang menyebutkan hanya 4,1 persen responden yang ingin agar menteri berasal dari partai politik. Sementara 78,3 persen responden menginginkan menteri diambil dari kalangan profesional. Profesional dalam hal ini dimaknai sebagai “orang yang dinilai paling mampu atau bahkan ahli untuk bidang-bidang terkait dengan kementeriannya, apa pun latar belakang partai, agama, maupun suku.”

“World-Class Professionalism”

Abad ke-21 dicirikan oleh globalisasi yang serba kompetitif dengan perubahan yang terus tanpa henti. Dengan demikian, kata profesional adalah sebuah keniscayaan. Jadi, tidak terbayangkan lagi kalau masih ada yang berkehendak hadirnya sebuah kabinet atau pemerintahan yang jauh dari nilai-nilai profesional. Di sini arti profesional bukan sekadar profesional biasa, tetapi profesional kelas tinggi, world-class professionalism. Justru, ketika kita tidak memedulikan kata profesional tersebut, berarti kita bersiap-siap untuk ”kalah” dalam pertarungan. Karena itu, kabinet profesional adalah kabinet yang selalu menampilkan kinerja terbaiknya. Tidak akan pernah menampilkan the second best. Selalu mengusahakan berada di posisi paling terbaik. Kabinet profesional selalu termotivasi untuk berbuat baik bagi kemaslahatan masyarakat. Mementingkan mutu kerja. Keprofesionalannya diabdikan demi kebaikan masyarakat yang didorong oleh kebaikan hati, bahkan dengan kesediaan berkorban. Dia mampu mengendalikan mental spiritualnya, sehingga melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai, prinsip hidup, ataupun agama dan kepercayaan yang dianut. Kabinet profesional tidak bekerja untuk kepuasan diri sendiri, tapi lebih untuk kepuasan masyarakat lewat interaksi kerja. Juga karena sangat memahami bahwa kabinet profesional itu lahir dari kebutuhan masyarakat. Jadi, mereka harus bisa melayani masyarakat sebaik-baiknya secara konsisten dengan segenap ketulusan dan kerendahan hati. Kabinet profesional terdiri atas menteri-menteri yang penuh pengabdian. Mereka memiliki rasa keterpanggilan untuk mengabdi di bidang keahliannya. Semua itu dilakukan dengan penuh kecintaan kepada masyarakatnya. Kabinet profesional adalah kabinet yang senantiasa dinamis dan selalu berani melakukan terobosan atau kreativitas baru bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Kabinet profesional adalah kabinet yang terdiri atas menteri-menteri yang selalu menjaga etika dan moralitas profesinya. Mereka tidak pernah terkontaminasi uang dan kekuasaan yang lebih besar. Mereka tetap membutuhkan uang dan kekuasaan, tetapi mereka menerimanya secara terukur dan sesuai. Semuanya sebagai bentuk penghargaan dari masyarakat. Kabinet profesional terdiri atas orang yang tekun, sabar, dan tahan godaan. Sebab, menjadi profesional memerlukan proses panjang. Profesional tidak bisa langsung diraih selama satu minggu pelatihan. Profesionalitas merupakan proses berkesinambungan. Kita tetap berharap SBY mau lebih mendengarkan aspirasi rakyat yang justru telah memilihnya ketimbang suara dan tekanan partai politik koalisi. Bukan itu saja, dengan membentuk zaken kabinet atau kabinet profesional, SBY akan lebih aman dan tidak ribet dengan kepentingan sempit partai-partai untuk keharusan menjaga keseimbangan sistem pemerintahan presidensialnya. Dalam periode kedua ini tidak boleh hal yang pernah terjadi pada periode pertama lalu terulang. Dengan demikian, SBY bisa maksimal memperhatikan kepentingan rakyat dengan lebih berani dan tegas. Berani melakukan terobosan untuk kemakmuran rakyat sekarang, bukan kemakmuran untuk 10 atau 20 tahun lagi. Karena itu, kita berharap profesionalisme akan menjadi ukuran utama dalam penentuan figur yang akan mengisi kursi menteri. Inilah periode monumentalnya SBY. Periode di mana SBY harus bisa menorehkan tinta emas bagi sejarah bangsa besar ini. Tentu juga bagi keluarga besar SBY sendiri. Terlalu sayang apabila SBY tidak bisa menorehkan tinta emas itu. Sebab, Karena abinet profesional adalah zaken kabinet yang menjadi conditio sine qua non.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: