Oleh: Ariya Ilham | 19 Juli 2009

Kontrak Politik dan Kontrak Sosial

Kini para legislatif yang sudah duduk di kursi DPR, yang dulunya menyandang gelar fenomenal CaLeg dan sibuk mencari dukungan, begitu pula dengan konstituennya mulai merasa gelisah. Betapa tidak, semuanya menagih tebaran janji yang selama masa kampanye diumbar dan digembar-gemborkan oleh para kandidat Caleg dapat segera terealisir. Ada sebagian orang yang menyatakan betapa janji itu sebagai kontrak sosial. sementara itu, ada juga pandangan yang menyatakan bahwa janji dalam konteks ini adalah kontrak politik. Dalam islam sendiri ada definisi bahwa janji adalah hutang, jika tidak dibayar ya akan tetap menjadi hutang. Hutang memang bisa dibayar kapanpun, tinggal bagaimana perjanjian itu di buat. Tapi kalau tidak ditepati atau mungkin sengaja dilupakan ini yang gawat. Bisa saja akan dituntut, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.

Kalau kita mau sejenak menoleh kebelakang dan mengingat-ingat pendapat Thomas Hobbes, seorang filusuf inggris yang namanya sangat terkenal dari abad ke-17, sejatinya, kontrak sosial atau kontrak politik itu terjadi karena empat hal yaitu:
Pertama, ada fakta bahwa mereka sama-sama memiliki kebutuhan dasar.
Kedua, jikalau tidak cukup barang-barang pokok untuk dibagi-bagikan, siapakah yang boleh memperolehnya?
Ketiga, adanya fakta berkekurangan
Keempat, Jikalau kita tidak dapat berhasil dengan mengandalkan kekuatan sendiri, harapan apakah yang dapat kita miliki?
(James Rachels 254:2008).

Mengacu pada pendapat Thomas tersebut, maka sungguh masuk akal untuk menerima suatu kontrak sosial dan kontrak politik, karena hal ini dilakukan untuk kebaikan kita sendiri. Dan inilah yang menyebabkan kenapa satu sama lain konstituen saling berbeda di dalam menentukan pilihannya. Tapi karena sifatnya yang situasional, maka akan menjadi lebih menarik jika kontrak politik atau kontrak sosial tersebut dilihat menggunakan kacamata etika situasi, sekaligus merujuk pada konsep yang dikemukan oleh Joseph Flechter, seorang Tokoh etika abad ke-20.

“Dalam etika situasi, apapun tidak bernilai pada dan dari dirinya sendirinya. Ia memperoleh nilainya hanya karena ia membantu orang sehingga ia menjadi baik atau menyakiti orang dan ia jadi buruk” (1966, 59, Franz Magnis-Suseno 118:2006).

Dari pendapat Joseph tersebut, saya mencoba menarik benang merah sebagai suatu kesimpulan bahwa untuk sementara waktu si penebar janji adalah sosok yang baik. Tapi, jika seiring berjalannya waktu ternyata janji itu tidak terbukti, tidak ada kata lain, saya berani mengatakan bahwa orang-orang brengsek penebar janji itu adalah pembohooong besaaar. Sudah barang tentu, sekarang semuanya dikembalikan pada penebar janji. Mereka harus mampu menetapkan pilihan bahwa dirinya ingin menjadi baik dengan menepati janji, Atau mungkin sebaliknya, ingin menjadi orang-orang brengsek. Biasanya, dengan menggunakan dalih karena harus kompromi dan win-win solution dengan koalisinya, maka ia terpaksa menjadi orang brengsek dengan tidak menepati janjinya. Apaaa? terpaksa!, Mungkinkah?… Ini artinya semangat kerakyatan dan kebangsaan sudah benar-benar akan hilang.

Dan jika jatuh pada pilihan yang terakhir, maka untuk kesekian kalinya rakyat pun akan kembali kecewa. Dan bisa jadi hasil akhir perhitungan suara pada pemilu presiden 2009 ini, juga akan membuat rakyat tambah kecewa.

Sumber Referensi:
1. 1966, 59, Franz Magnis-Suseno 118:2006
2. James Rachels 254:2008


Tanggapan

  1. Tampaknya mereka para caleg terpilih, lagi sibuk mencari-cari atau belajar menepati janji, kalau ternyata tidak bisa maka pasti mereka bilang “lupakan saja”

    • Iya tuh adalah bagian buruk yg hrs d dapatkan oleh rakyat Indonesia….
      Rakyat memilih cm buat dpt omong kosong dr para calon wakil rakyat..
      Nasib…nasib…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: