Oleh: Ariya Ilham | 17 Agustus 2009

Nilai Ekonomis Pecahan Dua Ribu

MULAI pertengahan Agustus ini, masyarakat di seluruh Indonesia sudah bisa memperoleh dan menggunakan uang rupiah dalam pecahan dua ribu. Uang kertas dua ribu rupiah tersebut bergambar Pangeran Antasari, pahlawan nasional dari Kalimantan Selatan, dan didesain dengan warna dominan abu-abu cerah.

Pecahan dua ribu diperkenalkan sebagai pecahan rupiah baru untuk melengkapi pecahan-pecahan yang selama ini beredar di masyarakat. Pecahan dua ribu itu akan menjadi uang kertas dengan nilai terkecil karena secara bertahap uang kertas seribu digantikan uang logam seribu (coining of a denomination).

Setidaknya ada dua alasan mengapa diterbitkan uang kertas rupiah dalam denominasi dua ribu. Pertama, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang kertas dalam nominal yang lebih besar. Uang kertas seribu rupiah yang selama ini sudah beredar luas dirasakan tidak lagi memadai untuk mendukung transaksi ekonomi, khususnya yang bernilai kecil dan berfrekuensi tinggi.

Sebagai contoh, sepuluh tahun lalu selembar uang seribu rupiah masih bisa membeli tiga potong pisang goreng atau membayar ongkos parkir mobil di pinggir jalan. Pada 2009, uang seribu rupiah tidak lagi cukup untuk melakukan transaksi-transaksi tersebut. Diperlukan lebih dari selembar uang seribu untuk sekadar membeli jajanan pasar atau membayar ongkos parkir. Bila dilakukan dalam skala yang besar dan frekuensi tinggi, hal itu tentu mengurangi kenyamanan bertransaksi.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, harga-harga di Indonesia memang terus meningkat. Meski demikian, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dalam perekonomian suatu negara berkembang. Inflasi adalah konsekuensi logis dari adanya pertumbuhan ekonomi seperti halnya mesin mobil yang akan memanas bila mobil dipacu kencang. Secara umum, tingkat inflasi di Indonesia masih tergolong normal dan dengan konsisten mampu berada di kisaran satu digit dalam satu dekade terakhir.

Alasan kedua, semakin berkurangnya cost-effectiveness uang kertas seribu rupiah. Masih terkait dengan tingkat harga yang makin tinggi, biaya produksi dan usia pakai uang kertas seribu dirasakan tidak lagi memadai bila dibandingkan dengan nilai transaksi yang dapat dilakukannya.

Sebagai uang kertas dengan denominasi terkecil, biaya produksi uang seribu rupiah relatif tinggi daripada nilai nominal yang disandangnya. Usia pakainya pun tergolong pendek karena sering digunakan untuk bertransaksi sehingga lekas usang. Dalam sehari, uang kertas seribu bisa berpindah tangan puluhan kali, terpapar keringat di tangan, dan bahkan mengalami perlakuan yang kasar seperti dilipat dan diremas-remas.

Berkurangnya cost-effectiveness itu kemudian mendorong adanya substitusi pecahan seribu rupiah dari uang kertas menjadi uang logam. Usia pakai uang logam jauh lebih panjang jika dibandingkan dengan uang kertas sehingga lebih efisien dari aspek produksi, distribusi, maupun sirkulasinya.

Pada awalnya, masyarakat mungkin akan merasa canggung menyimpan dan menggunakan uang logam seribu rupiah. Meski demikian, hal itu akan menjadi kebiasaan seiring berjalannya waktu sehingga bisa diterima sebagai praktik yang normal. Peralihan dari uang kertas ke uang logam sebenarnya juga pernah terjadi pada pecahan seratus rupiah dan lima ratus rupiah. Dua pecahan tersebut kini sudah tidak lagi dijumpai dalam bentuk uang kertas.

***

Terkait penerbitan uang dua ribu rupiah itu, masyarakat awam umumnya khawatir bahwa inflasi makin meningkat karena jumlah uang beredar bertambah banyak. Kekhawatiran tersebut sesungguhnya tidak beralasan karena setiap satu rupiah yang diterbitkan Bank Indonesia diikuti satu rupiah yang ditarik dari peredaran. Setiap hari jutaan lembar uang kertas yang tidak lagi layak edar dimusnahkan Bank Indonesia. Uang yang dimusnahkan itu diganti uang terbitan baru, baik dalam pecahan yang sama maupun berbeda.

Intinya, jumlah uang beredar selalu dijaga secara cermat agar tidak berlebihan dan sesuai dengan kebutuhan. Penyedotan maupun penggelontoran uang beredar dilakukan melalui mekanisme jual beli surat berharga seperti SBI dan SUN, bukan dengan menerbitkan atau memusnahkan uang.

Penerbitan uang denominasi dua ribu adalah bentuk penyediaan pilihan yang lebih banyak bagi masyarakat agar bisa bertransaksi dengan nyaman dan aman. Ketebalan dompet bisa dikurangi karena dua lembar uang seribu kini digantikan dengan selembar uang dua ribu. Transaksi pun bisa lebih aman karena jumlah uang kertas yang digunakan bisa lebih sedikit tanpa mengurangi nilai transaksi.

Penerbitan uang denominasi dua ribu juga tidak boleh menjadi alasan untuk menaikkan harga-harga karena fungsinya sama persis dengan dua lembar uang seribu. Masyarakat harus berani menolak perilaku penjual yang membulatkan ke atas (round up) dengan alasan kepraktisan. Pecahan seribu, lima ratus, seratus, dan bahkan lima puluh rupiah tetap tersedia untuk memfasilitasi transaksi ekonomi hingga ke satuan-satuan terkecil.

Dari sudut pandang yang lain, uang kertas dua ribu rupiah itu bisa menjadi media edukasi berskala nasional dengan memuat gambar Pangeran Antasari dalam desainnya. Sebelumnya, nama Pangeran Antasari pernah dimunculkan dalam sebuah seri prangko namun tanpa gambar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: